Monthly Archives: March 2020

Apa Dan Siapa Pecinta Alam?

Apa dan siapa pecinta alam? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sering berkumandang di seantero rimba dan alam dunia. Asumsi membingungkanlah yang terjadi tentang pecinta alam. Hampir tidak ada data yang jelas mengapa nama tersebut bisa melambung dan karena peristiwa apa. Sejauh ini hanya saat Kode Etik Pecinta Alam yang di resmikan saat Gladian bersama ke IV di Ujung Pandang pada tahun 1974.

APA PECINTA ALAM?

Pecinta alam adalah pribadi yang mencintai alam, dengan hati , perasaan dan perbuatan. Semua bisa di lihat saat dimanapun dia berada. Karena alam adalah bahasa universal sebagai penggambaran suatu tempat luas tak berbatas ruang dan waktu. Bisa dalam ruangan didalam rumah, sekolah, kantor, pasar dan lain – lain tempat. Bisa dari lingkungan sekitar, kawan, saudara, bahkan musuh dan juga flora dan fauna. Tidak hanya berpikiran sempit bahwa alam adalah gumpalan pohon di tengah rimba atau dilerengnya gunung. Dan pada hakekatnya, sebagai penyandang nama pecinta alam, dia mencintai alam, dan karena cinta, dia akan peduli dan mengasihi. Tidak akan rela jika yang dicintai terluka oleh apapun.

SIAPA PECINTA ALAM?

Pecinta alam adalah suatu sosok yang tegar dan mudah bersimpati kepada alam luas, iba bila terluka dan akan tegas saat melihat sesuatu menyakitinya. Semua karena rasa cinta. Tetapi apa yang terjadi kini? Ada asumsi bahwa seseorang berhak atau sudah menyandang nama megah, pecinta alam apabila telah mendaki tingginya gunung! Dan sebelum itu terjadi, dia bukan pecinta alam. Itu saja. Mudah bukan mencari jabatan pecinta alam? Intinya, bagi yang belum pernah mendaki gunung, adalah bukan pecinta alam!

Itulah mitos salah selama ini. Lihat di tembok – tembok basecamp di kaki gunung atau dilereng – lereng gunung, mudah kita menemukan bendera, spanduk atau stiker bertuliskan nama organisasi yang ada tambahan pecinta alam, pala dll. Tidak akan mudah kita temui nama tersebut di kegiatan alam terbuka lain selain pendakian gunung, seperti hiking, konservasi alam, arung jeram dll. Mengapa?

Itulah kesalahan mendasar bagi para penggiat alam bebas, tidak mengetahui secara luas apa itu pecinta alam? Dan siapa pecinta alam? Dan seberapa pantasnya kita menyandang nama itu? Benarkah cinta kita kepada alam cinta yang sesungguhnya? Apa maksud teriakan Salam Lestari?

Apabila anda pecinta alam sejati, sematkan nama itu di hati dan jaket anda. Dimanapun anda berada, dan dimanapun anda berkegiatan alam terbuka untuk alam bebas. Marilah kita mulai, apabila anda senang berkegiatan alam terbuka, walaupun bukan pendaki gunung, gunakan nama PA dan PALA di sela nama organisasi anda, dan teriakkan kata: Salam Lestari di saat berkegiatan. Karena pecinta alam bukan milik pendaki gunung semata. Janganlah menjadi pendaki sampah tetapi jadilah pecinta alam konservatif .

Akhir kalimat: Salam Rimba Indonesia!

10 Dampak Pemanasan Global

Pemanasan Global atau Global Warming memang telah menghantui Bumi, yang nantinya tidak akan lebih dari satu abad lagi Bumi akan merasakan dampaknya dengan membuat porak porandanya peradaban penghuni Bumi. Bencana yang di timbulkan karena perubahan dan ketidak stabilan iklim mulai banyak menelan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Walau masih berupa studi dan prediksi, tidak ada salahnya kita mulai mengetahui dampak pemanasan global ini.

1. HUTAN AMAZON AKAN BERUBAH MENJADI GURUN

Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tetapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30 – 60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi – proyeksi menunjukkan hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050.

2. GREAT BARRIER REEF LENYAP DALAM 20 TAHUN

Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib ini. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: “Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida ( CO2 ) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. Hal ini didukung para peneliti karang dan juga semua organisasi terkait lainnya. Ini sudah kritis dan beginilah kenyataanya.”

3. GURUN SAHARA AKAN MENGHIJAU

Para ilmuwan melihat tanda – tanda bahwa gurun Sahara dan wilayah di sekitarnya menghijau akibat makin meningkatnya curah hujan. Hujan ini mampu merevitalisasi wilayah gersangnya sehingga menarik komunitas petani. Kecenderungan menyusutnya gurun ini dijelaskan oleh model – model iklim, yang memprediksi kembalinya ke kondisi yang merubah Sahara menjadi padang rumput subur seperti sekitar 12 ribu tahun yang lalu.

4. ANGIN TOPAN BERTIUP LEBIH DAHSYAT

Belum bisa dijelaskan apakah Global Warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Tetapi ada indikasi – indikasi bahwa Global Warming akan menciptakan badai – badai berkategori 5 – badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model – model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global Warming juga membuat badai – badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.

5. HEWAN – HEWAN MENYUSUT

Studi baru menyebutkan bahwa bahwa spesies – spesies hewan mengalami penyusutan rata – rata hingga 50 persen dari massa tubuhnya dalm 30 tahun terakhir. Penelitian awal terhadap domba menduga bahwa musim dingin yang lebih pendek dan ringan membuat domba – domba itu tidak menambah berat badannya untuk bertahan hidup pada tahun pertama hidupnya. Faktor seperti ini dapat juga mempengaruhi populasi ikan. Para peneliti menyebutkan perubahan iklim ini bisa mengganggu rantai – rantai makanan, dimana predator di puncak rantai makanan yang paling terpengaruhi karena menyusutnya mangsa.

6. KOTA LONDON TENGGELAM PADA TAHUN 2100

Tidak hanya karang dan pulau – pulau landai yang terancam Global Warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota – kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini, menurut penelitian yang menyebutkan Global Warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya. London termasuk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul “Flood“. Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi.

7. INDONESIA KEHILANGAN RIBUAN PULAU – NYA

Akibat Global Warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum yahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.500 pulau – pulau di wilayahnya.

8. GLOBAL WARMING AKAN MEMICU TERORIS

Global Warming bisa menciptakan kondisi ketidakstabilan di negara – negara miskin, sehingga memicu terjadinya migrasi dan menjadi tempat subur berkembangnya terorisme. Kondisi negara yang tidak stabil akibat iklim yang keras dan tidak menentu menyebabkan banyak orang meninggalkan negaranya dan karena tekanan beberapa di antaranya bisa melakukan tindak terorisme. Belum lagi masalah akibat penolakan dari negara yang didatangi para imigran ini.

9. PEGUNUNGAN ALPEN MENCAIR

Tahun – tahun belakangan ini terlihat pengurangan intensitas salju di wilayah – wilayah rendah, menyusutnya volume glacier ( sungai es ), dan juga meningkatnya cairnya wilayah es beku. Hal ini berdampak langsung pada aktivitas turisme di musim dingin. Diprediksi glacier – glacier itu akan hilang antara tahun 2030 dan 2050. Itali dan Swiss telah memutuskan untuk menggambar ulang batas – batas wilayah mereka akibat berkurangnya glacier – glacier di Alpine dan menyapu tanda batas – batas wilayah dua negara itu.

10. TENGGELAMNYA KEPULAUAN MALDIVA


Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yang mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai – pantai berpasir putih dengan air hangatnya. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus tahun sebelum kepulauan ini bebar – benar lenyap ditelan samudera.

Menakutkan memang, meski hampir semua dari kita mungkin tidak akan mengalaminya, tetapi anak cucu kitalah yang akan menghadapinya. Mungkin sebagian orang menganggap isu Global Warming hanyalah bualan saja, tapi mungkin sebagian dari kita telah merasakan naiknya temperatur di wilayah masing – masing jika dibandingkan kira – kira 10 tahun yang lalu.

Memang belum ada yang membuktikannya sebagai akibat Global Warming atau pemanasan global, tetapi satu hal sudah jelas, sudah waktunya manusia memikirkan kembali untuk menghargai alam dan bersahabat dengan alam dalam segala aktivitasnya termasuk dalam strategi pembangunan, baik infrastruktur maupun industri.