Pecinta Alam Konservatif

Pecinta alam konservatif sebenarnya yang di butuhkan alam dan bumi ini. Banyak berkeliaran para pecinta alam atau bahkan yang mengaku dan mengatasnamakan pecinta alam, tetapi hanya sebatas nama dan lambang di jaketnya. Sering kita jumpai khususnya dalam pendakian gunung, pecinta alam – pecinta alam sibuk berpacking dan mempersiapkan perjalanannya. Ditengah jalan, di iringi dengan sayup angin dan suara gemerisik dedaunan, mereka meretas langkah, menyerukan bahwa mereka pecinta alam yang tengah berada di tengah alam. Itu yang banyak di jumpai sekarang ini, bahkan mungkin sejak dahulu.

Tetapi, di antara sekian banyak pecinta alam, juga banyak yang tidak tahu sama sekali atau juga lupa tentang kode etik pecinta alam. Kode etik pecinta alam yang memang di buat bagi para penggiat alam bebas untuk lebih tulus dan sejati mencintai alam. Ada juga yang tumbuh model pecinta alam konservatif walau jumlahnya hanya sepersekian persen dari ribuan “pecinta alam” di Indonesia. Bahkan yang lebih membuat sedih, pecinta alam konservatif hanya tahu menanam pohon di lereng gunung, melakukan bersih gunung, kemudian turun dan selesai!

Menanam pohon itu mudah, tetapi merawat dalam waktu berkala apakah juga mudah? Padahal itulah yang sebenarnya di butuhkan alam. Bila berpedoman pada menanam pohon itu cukup dan sudah bertindak sebagai pecinta alam konservatif, itu jauh dari sempurna dan jauh dari gelar, pecinta alam konservatif sejati. Sama dengan anda pecinta alam yang ikut – ikutan konservatif!

Bila saja kita mau melihat ke masa lalu sebetulnya sejarah manusia erat hubungannya dengan alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan ( meramu ), alam adalah tempat tinggal mereka, tempat mereka bergantung dan hidup. Jajaran pegunungan adalah tempat mereka bersandar, lembah padang rumput merupakan tempat mereka berbaring, sungai adalah tempat mereka melepaskan dahaga, dan goa – goa adalah tempat mereka berlindung dari sengatan matahari dan terpaan hujan.

Akan tetapi setelah manusia menemukan kebudayaan dan teknologi, alam menjadi seperti barang aneh dan selalu di eksploitasi. Manusia mulai mendirikan bangunan untuk mereka berlindung, manusia mulai menciptakan barang – barang untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup mereka walau mereka tak menyadari barang – barang tersebut dapat mencemari alam. Manusia juga menciptakan gedung – gedung bertingkat untuk mengangkat kepala mereka dan menonjolkan keegoisan mereka, hingga pada akhirnya manusia dan alam mengukir sejarahnya sendiri – sendiri.

Lihatlah di lereng gunung, pohon butuh kita rawat, bila hanya menanam kemudian kita tinggalkan tanpa menerima lagi sentuhan kita, apa yang akan terjadi? Tuhan Maha Kuasa, pohon akan di tumbuhkan oleh – Nya, dan kita yang merawatnya dan memupuknya. Itulah tanda pecinta alam konservatif sejati.

Sama dengan sebuah idiom kata, bila anda sudah beristri kemudian istri melahirkan anak, buah dari cinta, kemudian anda tinggalkan anak dan istri anda. Apa yang patut disematkan di muka anda? Sama dengan alam, setelah anda tanami pohon kemudian anda tinggalkan, gelar apa untuk anda? Marilah berlatih tanggung jawab bagi kami dan anda semua. Jadilah pecinta alam konservatif yang tidak hanya menanam, tetapi juga merawat.

Sekali lagi, bila hanya menanam itu mudah, tetapi mudahkah merawatnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *