Subcribe to our RSS feeds Join Us on Facebook Follow us on Twitter Add to Circles
+82221152857 wijayadie@yahoo.com
Memuat...

Pendakian Massal Dan Rusaknya Ekosistem Di Semeru

Sharing Yaa
Pendakian massal, salah satu model pendakian yang melibatkan banyak orang pendaki dalam satu gunung. Biasanya diadakan oleh sebuah organisasi Adventure tertentu dengan berbagai alasan. Alasan utama adalah mengangkat citra sebuah induk organisasi atau komunitas. Seperti biasanya, pendakian massal atau Penmas akan di bumbui dengan acara bersih gunung, penanaman pohon dll.

www.belantaraindonesia.org

Demikian juga yang baru - baru ini di adakan, yakni Pendakian Massal di Gunung Semeru pada tanggal 15 - 18 November 2012 yang melibatkan kurang lebih 1.988 pendaki se Indonesia dari berbagai kalangan dan kelompok penyuka kegiatan pendakian gunung dan mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ).

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Terletak di Kabupaten Lumajang, tepatnya wilayah Desa Ranupani, danau ini menjadi salah satu danau paling menarik karena terletak di kawasan pelestarian yang menjaga kelestarian alaminya.

Selain daya tarik Ranu Kumbolo, umumnya menjajal Puncak Semeru menjadi daya pikat sendiri untuk mengunjungi TNBTS. Karena Mahameru merupakan puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Karena berada di kawasan zona konservasi Taman Nasional, tentu saja TNBTS memiliki aturan sendiri. Misalkan batas orang yang diijinkan naik dalam satu hari hanya 600 - 800 orang. Sebenarnya dalam pelaksanaan peraturan tersebut, pihak TNBTS kurang bisa bertindak tegas mengingat banyaknya celah dan kekurangan. Mungkin saja memang kurang personel penjaga atau kepentingan lain.

Tahun 2012 ini kawasan TNBTS kembali menjadi populer, selain dari berbagai liputan media cetak maupun elektronik, juga acara - acara seperti jambore petualang bertemu Medina Kamil, pelaksanaan syuting film 5 cm, upacara 17 Agustus, hingga yang paling baru pendakian massal Jambore Pendaki Avtech ( Salah satu merek produk perlengkapan outdoor ) dan bertemu Riyanni Djangkaru.

UU No 5 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menurut aturannya Taman Nasional dikelola dengan sistem zonasi dengan tujuan untuk konservasi, penelitian, pendidikan, budaya, serta rekreasi dan wisata. Pembagian di sini ada Zona Inti, Zona Penyangga, Zona Pemanfaatan dan zona lain sesuai keperluan.

Melihat bentuk dari TNBTS sendiri, wilayah Gunung Semeru merupakan zona inti konservasi yang memerlukan perhatian khusus. Pasalnya meskipun di dalamnya banyak flora fauna yang berada dalam status keterancaman dari kepunahan, seperti Elang Jawa, Semeru tetap menjadi tujuan favorit wisata minat khusus, yakni wisata pendakian.

Misalnya ketika pendakian masal 300 an orang pada upacara 17 Agustus yang dilaksanakan tiap tahun. Anda tidak akan bisa membayangkan bagaimana padatnya suasana Danau Ranu Kumbolo. Danau indah tersebut seolah tersihir menjadi pasar tumpah ruah dengan beragam warna tenda doom dan ( maaf ) kotoran manusia bercecer.

Masalahnya tidak semua “pendaki gunung” itu menyadari bahwa ketika mereka mendaki di kawasan TNBTS, mereka membawa beban tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Dan ketika pendaki - pendaki ini tidak dibekali dengan pengetahuan ( meskipun hanya pengetahuan minimal ) dan kesadaran untuk berkonservasi, tak ayal mereka menjadi orang dengan potensi perusak.

Itu dari sisi konservasi. Kemudian dari sisi keselamatan? Berapa banyak yang  kecelakaan, tersesat bahkan mati di Semeru?

Kabar paling baru dan masih hangat, ribuan orang memadati jalur pendakian Gunung Semeru. Bayangkan, jumlah orang sebegitu banyak lebih dari dua kali lipat batas kapasitas aturan TNBTS. Mereka adalah peserta dari Jambore Avtech ( kurang lebih 1.988 orang ) dan pendaki independen di luar peserta resmi Jambore. Apakah Anda bisa membayangkan dampak langkah kaki dan ricuh ramai mereka terhadap keberlangsungan kelestarian TNBTS? 

Meskipun mereka membawa tajuk bersih gunung, kita tidak yakin mereka mau membawa turun feses ( kotoran manusia ) mereka masing - masing. Tidak juga semua punya kesadaran untuk tidak memetik bunga liar, Berry - Berry dan Cantigi. Untuk tidak mengotori air Ranu Kumbolo dan mengganggu fauna liar dengan kebisingannya.

Rekan - rekan dari Forum Mapala Malang melalui pengumpulan tanda tangan sudah melancarkan protes dan mendukung apabila TNBTS bertindak tegas untuk membatasi peserta sesuai aturan kapasitas. Tapi protes tinggal protes, toh acara tetap berlangsung dan kelestarian Semeru dikalahkan oleh masalah kepentingan. Dimana nurani kita…

Biasanya mereka yang menyebut dirinya pendaki gunung bergejolak untuk “menaklukkan” Sang Mahameru. Sabar saja, tak akan lari gunung dikejar. Bertemu Riyani Djangkaru bisa di mana saja. Pikirkanlah segi pelestariannya sebelum memanfaatkan secara berlebih. source

Dan kutipan dari pihak penyelenggara acara penmas tersebut semoga segera di realisasikan:

Saat acara berlangsung, kami sadar terdapat beberapa kekurangan yang langsung kami lakukan tindakan antisipasi, namun ada beberapa kekurangan yang luput dari perhatian kami. Atas hal ini kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Dengan tangan terbuka kami terima semua keluhan, masukan maupun kritik.

Pasca pelaksanaan acara ini kami bersama panitia kelompok pecinta alam Malang dan pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah melakukan evaluasi dan koordinasi serta melakukan penanganan langsung masalah kebersihan dan pemulihan ekosistem.

Kami mohon kepada para peserta, para pemerhati lingkungan, organisasi pencinta alam, dan semua pihak yang berkepentingan, agar bersabar untuk penjelasan selanjutnya setelah evaluasi dan koordinasi ini. 
  ( Kami turunkan artikel ini sebagai bentuk kepedulian kami akan alam gunung Indonesia dan juga bidang yang kami terus usahakan, yakni konservasi alam. Belantara Indonesia ada karena alam Indonesia seharusnya tetap terjaga )

Artikel terkait untuk dibaca



12 Belantara Indonesia Fans:

  1. dalam hal ini pasti itu terjadi,,tidak mungkin dalam pendakian tidak memetik bunga satupun,sedangkan peserta segitu banyaknya,,,
    semoga segera di antisipasi

    BalasHapus
  2. hampir 2000 orang...ck...ck...baru kali ini aq mendengar pendakian bersama sampai 2 ribuan...

    BalasHapus
  3. Kunjungan malam..
    maaf yah mas bila kunjungan kami hanya merepotkan ..heheee
    terlepas dari itu kami selalu menyukai dan respek dengan artikel yang mas buat..

    BalasHapus
  4. pendakian jangan sampai merusak lingkungan dan ekosistem

    BalasHapus
  5. yang penting walaupun banyak yang ikut mendaki gunung tolong jaga keasrian hutan tersebut atau gunung tersebut

    BalasHapus
  6. sudah lama tak berkunjung ke sini,, makin mantaf aja nih tampilannya,, bravo BI !! :)

    BalasHapus
  7. mengutip tulisan dari novel "sarongge" tentang edelweis di surya kencana :
    “….Kita yang menamakan diri pencinta alam, menjadi ancaman paling berbahaya dari kelestarian alam. Kalaupun tidak menebangi cantigi, tidak membuat api unggun yang bisa membakar padang edelweiss, tenda kita pastilah menutup kemungkinan bibit edelweiss berkembang……..Makin banyak tenda dipasang, makin luas bibit edelweiss yang tak sempat tumbuh…..Kita para pencinta alam hanya bisa menikmati. Tetapi apa yang kita lakukan untuk membayar kembali kepada alam. Termasuk merawat edelweiss di Suryakencana? Tak ada. Kita menutup mata, bahwa bunga abadi di alun-alun itu sedang menuju kepunahan”

    BalasHapus
  8. Mungkin suatu saat nanti, TNBTS bisa mengadopsi sistem SIMAKSI TNGP, secara on line, sehingga kawan2x pendaki bisa menyesuaikan rencanaya...
    lagipula, sistem tersebut memudahkan pihak TNBTS memantau jumlah pengunjung agar tidak melebihi kuota, mengingat gn. Semeru sudah semakin ramai tiap tahunnya... :)

    BalasHapus
  9. Informasi nya sangat bermanfaat sekali. Terima kasih


    BalasHapus

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Belantara Indonesia. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Sahabat alam Indonesia!