Not seeing a Kembali Ke Atas? Go to our FAQ page for more info.
Join Us on FacebookFollow us on TwitterAdd to Circles
+81391470737 savanna@belantaraindonesia.org
Memuat...

Perancang Masjid Istiqlal Seorang Protestan

Sharing Yaa
Masjid Istiqlal adalah masjid yang terkenal di Indonesia dan terletak di dekat kantor Presiden Republik Indonesia dan juga berjarak sekitar 200 meter dari Lapangan Banteng. Masjid Istiqlal sering digunakan oleh para petinggi negara ini dan para Duta Besar negara sahabat apabila ada acara - acara besar keagamaan.


Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1978. Kini Istiqlal, yang berarti ’merdeka’, menjadi masjid nasional sekaligus masjid terbesar di Tanah Air, bahkan masjid terbesar di Asia Tenggara. Dengan luas bangunan sekitar 4 hektar dan luas tanah 9 hektar, kompleks Istiqlal mampu menampung hingga 70 ribu orang sekaligus pada waktu bersamaan. Selain memiliki bangunan induk dan kubah, Istiqlal dilengkapi dengan emper penghubung, teras raksasa dan menara, halaman, taman, air mancur, serta ruang wudhu yang luas.

Masjid Istiqlal dibangun selama 17 tahun, dimulai pada 24 Agustus 1961, ditandai peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno. Rencana pembangunan Istiqlal sendiri muncul pada 1950. Saat itu Menteri Agama, KH Wachid Hasyim, melansir gagasan membangun sebuah masjid yang berskala nasional dan mencerminkan jati diri Indonesia. Bersama Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan, mereka membentuk Yayasan Mesjid Istiqlal.

Pada 1954 Presiden Soekarno menyetujui gagasan tersebut. Diputuskan bahwa arsitektur masjid disayembarakan secara terbuka. Presiden Soekarno sendiri yang menjadi Ketua Dewan Juri, dibantu Ir Rooseno, HAMKA, dan Oemar Husein Amin. Pada 5 Juli 1955 panitia sayembara mengumumkan desain berjudul “Ketuhanan” sebagai pemenang. Perancangnya adalah Frederich Silaban, seorang arsitek yang kelak disebut Soekarno sebagai “By the Grace of God”.

Frederich Silaban
Jatuhnya pilihan pada rancangan tersebut, tentu bukan suatu kebetulan. Ada dua koinsidensi yang menarik di sini. Pertama, Silaban merupakan seorang penganut Protestan yang taat. Kedua, posisi Istiqlal berhadapan dengan Gereja Katedral di sebelah selatan.

Dua koinsidensi yang muncul di balik pembangunan Istiqlal, menunjukkan bagaimana konsep toleransi beragama dikembangkan begitu halus dan sistemik. Tradisi toleransi beragama seperti ini harus menjadi salah satu penanda jati diri nasional.  Source Area Bola

Artikel Terkait Untuk Dibaca