Subcribe to our RSS feeds Join Us on Facebook Follow us on Twitter Add to Circles
+82221152857 wijayadie@yahoo.com
Memuat...

Nisan Tanpa Jasad Di Everest

Sharing Yaa
Ratusan batu nisan berderet di punggungan Dugla 4.830 mdpl. Kabut tipis menyamarkan nama - nama yang dipahat di batu tersebut. Berada di jalur utama pendakian gunung Everest, deretan nisan tanpa jasad tersebut kelihatan mencekam bagi para pendaki yang hendak menjajal puncak tertinggi di Bumi ini.


Nama - nama itu adalah mereka yang hilang atau tewas di Everest sejak gunung ini pertama didaki. Scott Fischer, salah satu nama legendaris yang dipahatkan di batu nisan itu. Pemandu pendakian Gunung Everest ini tewas bersama tujuh pendaki lain dalam tragedi Mei 1996.

Jon Krakauer, penulis dan pendaki yang selamat dari tragedi itu, menuturkan dalam bukunya, Into Thin Air, tentang kedahsyatan badai salju di puncak Everest pada waktu itu. Badai yang membekukan tangan dan kaki serta membutakan mata sehingga melampaui segala daya tahan manusia.

Sebagian besar nama yang terpahat itu adalah pendaki hebat, bahkan juga para Sherpa, yang sudah berkali - kali mencapai puncak Everest. Babu Chiri Sherpa misalnya, seorang sirdar atau porter di ketinggian yang pada usia 35 tahun sudah mencapai puncak Everest untuk yang ke - 10 kalinya. Dia tewas karena terperosok crevasse, jurang es yang tertutup salju tipis, saat hendak mencapai puncak Everest untuk yang ke - 11 kali.

Rombongan yak melewati nisan batu di Dugla Pass, berketinggian 4.830 meter di atas permukaan laut. Nisan tanpa jasad itu untuk menghormati ratusan pendaki yang tewas di Everest.
Menurut catatan Krakauer, sejak pertama didaki pada tahun 1921 hingga 1996, perbandingan jumlah korban tewas dengan yang sukses mencapai puncak Everest adalah 4:1. Artinya, setiap ada empat orang yang sukses mencapai puncak dibayar dengan satu korban tewas. Dalam tahun 1996 tersebut, total 15 orang tewas di Everest dibandingkan dengan 71 orang yang sukses mencapai puncaknya.

Risiko kematian dalam pendakian Everest terus menurun seiring dengan kemajuan teknik dan alat pendakian, serta prakiraan cuaca yang lebih baik. Berdasarkan data Adventurestats.com, hingga 2006 sebanyak 11.000 orang mencoba mendaki Everest dan hanya 3.000 orang yang sukses mencapai puncak atau angka kesuksesannya hanya 29 persen. Adapun tingkat kematian sebanyak 2,05 persen atau total 207 orang tewas dalam pendakian itu.

Angka kesuksesan pendakian Everest terus membaik, tetapi tiap musim pendakian tak pernah sepi dari berita tentang pendaki yang tewas di Everest. Pada tahun 2011 ini sedikitnya tiga pendaki tewas di Everest.

Dugla
Tak hanya di Everest, maut juga mengintai di enam puncak tertinggi bumi lainnya, yaitu Aconcagua ( Argentina ) , Vinson ( Antartika ), Denali ( Amerika Serikat ), Kilimanjaro ( Kenya ), Elbrus ( Rusia ), dan Carstensz Pyramid ( Indonesia ). Kalangan pendaki Indonesia memiliki kenangan tak terlupakan saat dua anggota Mapala Universitas Indonesia, Norman Edwin dan Didiek Samsu, tewas di Aconcagua pada 1992.

Radang beku ( frossbite ), jurang es yang tersamarkan salju tipis ( crevasse ), badai salju yang membutakan ( snow blind ), longsoran salju ( avalanche ), oksigen yang tipis, hingga penyakit karena ketinggian ( Acute Mountain Sickness ) adalah sederet bahaya yang mengancam nyawa pendaki. Bahkan, pendaki terhebat sekali pun yang didukung perhitungan matang bisa menemui ajal di atas gunung.

Namun, bagi para pendaki, risiko itu dianggap sepadan. Bahkan, seperti dituturkan Ernest Hemingway, penulis Amerika peraih Nobel Sastra, yang disebut olahraga sejatinya hanya pendakian gunung, selain adu banteng dan balapan mobil. Sedangkan yang lain - lain hanyalah permainan.

Alasannya, jika seorang penjaga gawang salah mengantisipasi bola, dia barangkali hanya akan kalah bertanding. Akan tetapi, seorang pendaki yang terpeleset ke crevasse di Everest kemungkinan besar akan berujung pada maut.

PETUALANGAN
Manusia membutuhkan sesuatu yang lain dalam hidup,” kata Dick Bass, yang pertama kali mencapai tujuh puncak, dengan versi puncak ketujuh adalah Gunung Kosciusko ( Australia ). Dick Bass adalah pengusaha AS kaya raya, pemilik tambang batu bara dan juga resor ski mewah. Dia mendapat inspirasi untuk mendaki tujuh puncak tertinggi bumi setelah mencapai puncak Denali pada tahun 1981.

Jalur Dugla di Everest
Kesuksesannya dalam bisnis, menurut Bass, tidak berarti banyak dibandingkan kenikmatan mencapai puncak - puncak tertinggi bumi. Petualangan, menurut Bass, adalah panggilan dasar yang diwariskan dari manusia pertama yang merupakan para pengelana di muka bumi. Seperti juga disebutkan Paul Zweig dalam buku The Adventurer, ”Yang tertua, yang paling tersebar luas di dunia adalah cerita tentang petualangan...”

Kisah tentang petualangan seperti tak pernah habis, sekalipun saat ini barangkali tak ada lagi tempat di bumi ini yang belum terjamah manusia. Selalu saja setiap orang menemukan alasannya sendiri untuk mencapai puncak - puncak tertinggi itu. Bahkan, sebagian lagi tak butuh alasan yang ribet untuk mendaki gunung, seperti dikatakan James M Clash dalam To The Limits bahwa dia mendaki, ”Hanya karena gunung itu di sana.

Karena itu, sejak Dick Bass mengumumkan sebagai orang pertama yang menapak di tujuh puncak benua pada 1985, dan kemudian direvisi oleh Patrick Morrow pada 1986, puncak - puncak tertinggi di bumi itu masih juga menjadi obsesi banyak pendaki.

Setiap tahun ratusan pendaki dari berbagai negara berlomba menapak puncak-puncak itu. Dan hingga Maret 2010 tercatat 274 pendaki dari 51 negara yang sukses menapak di tujuh puncak benua. Tak cukup sekali, beberapa di antara mereka berulang kali menjadi The Seven Summiters.

Ketika kemudian semakin banyak pendaki sanggup mencapai tujuh puncak, pendaki Reinhold Messner  mencari tantangan lain. Dia mendaki solo ke puncak Everest, tanpa membawa tabung oksigen. Atau juga seperti pendaki - pendaki Polandia, yang sengaja memilih musim pendakian ke puncak - puncak tinggi itu di musim terdingin. ”Kenikmatan akan penderitaan positif. Karena jika sesuatu diperoleh terlalu mudah, Anda tak akan menikmatinya, sungguh,” kata Wielicki, pimpinan pendaki Polandia.

Namun, ”penderitaan positif” ini kadang terlalu dekat dengan kematian. Nisan tanpa jasad di punggungan Dugla, Everest, menjadi saksi betapa maut selalu teramat dekat dengan kejayaan para pendaki.  Source

Artikel terkait untuk dibaca



5 Belantara Indonesia Fans:

  1. waw,,,begita banyak korban karena mendaki gunung ini,,,terbukti berarti gunung ini begitu di sukai,,,hebat sekali,,salut buat para pendaki

    BalasHapus
  2. gunung yang hebat memang penuh dengan misteri,, korban dan cerita2 yang mengikutinya

    BalasHapus
  3. gak kebayang mendaki gunung dengan melewati nisan" penghormatan bagi para pendaki yang tewas. . .

    BalasHapus
  4. seakan pendakian everest sudah terpampang pilihan bagi para pendaki, puas dengan selamat atau mendapat penghargaan dalam batu" nisan tersebut. . .

    BalasHapus

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Belantara Indonesia. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Sahabat alam Indonesia!