Subcribe to our RSS feeds Join Us on Facebook Follow us on Twitter Add to Circles
+82221152857 wijayadie@yahoo.com

Gunung Beratap Salju Di Khatulistiwa

Sharing Yaa
Gunung Beratap Salju Di Khatulistiwa mungkin akan terdengar aneh. Khatulistiwa selama ini kita kenal berada di daerah tropis yang hampir tidak bisa di pastikan apabila ada salju yang melanda. Wilayah Eropa yang selama ini menjadi tempat yang identik dengan salju dengan musim dinginnya. Demikian pula sebaliknya, warga Eropa terpesona dengan Khatulistiwa, dengan udara hangatnya dan sumber daya alam yang melimpah.

Mungkin bagi orang - orang Eropa, melihat salju di Khatulistiwa adalah sebuah keajaiban. Di tempat yang setiap hari mereka merasa panas, menemukan salju tentu sebuah keajaiban yang tidak bisa di lukiskan dengan kata - kata. Itulah barangkali yang mereka rasakan ketika melihat “mahkota putih” menghiasi puncak - puncak gunung tertinggi di Khatulistiwa.

Kilimanjaro, Aconcagua, dan Carstensz Pyramid. Tiga gunung yang ketika pertama kali terlihat puncaknya membuat orang - orang Eropa tertegun - tegun tak percaya. Mahkota salju abadi yang menghiasi puncaknya adalah keajaiban Khatulistiwa.

KILIMANJARO


Mahkota putih Kilimanjaro juga dilihat dan dikabarkan oleh orang Eropa. Seorang misionaris berkebangsaan Swiss bernama Johann Rebmann - lah yang pertama kali mengabarkan keberadaan salju Kilimanjaro. Dalam sebuah memoarnya yang bertarikh 11 Mei 1848 pendeta Rebmann menulis :

Pegunungan di Jagga sedikit demi sedikit terlihat semakin jelas dipenglihatanku. Kira - kira pukul 10.00 saya perhatikan ada sesuatu yang putih di puncaknya. Mula - mula saya mengira itu adalah awan yang sangat putih, dan pemandu jalan saya duga juga membenarkannya. Tetapi, beberapa saat kemudian, saya merasa tidak puas dengan penjelasan itu. Dan ketika saya bertanya lagi apakah betul itu awan, pemandu jalan saya mengatakan bahwa yonder adalah awan, tetapi sesuatu yang putih di sana itu pasti bukanlah awan. Dia tidak tahu apa sesungguhnya yang putih di puncak sana, tetapi mungkin benda itu dingin. Saya teringat pada suatu benda yang telah lama dikenal oleh orang - orang Eropa, yaitu salju.”

Satu tahun kemudian, pada 10 November 1849, seorang misionaris lain bernama Johan Ludwig Krapf melaporkan telah melihat salju Kilimanjaro dari arah barat lautnya. Ia telah berkali - kali melihatnya sehingga berkesimpulan bahwa itu benar - benar gunung salju. Apalagi pada 3 Desember 1849 ia juga melihat gunung Kenya yang juga bersalju.

Namun kabar dari kedua misionaris ini tentang penemuan gunung salju di Afrika Timur yang dekat dengan Khatulistiwa tidak serta - merta dipercayai. Seorang ahli geografi Inggris bernama William Desborough Cooley bahkan mengejek apa yang dinyatakan Rebmann ini sebagai gabungan penglihatan yang rabun dan imajinasi.

Namun sebenarnya, keberadaan gunung bersalju di pedalaman Afrika telah lama di sebut - sebut. Sebuah naskah kuno yang ditulis pada tahun 45 masehi berjudul Periplus of the Erythrean Sea menyebutkan sebuh tempat di sebelah timur Somalia bernama Rhapta. Dan seratus tahun kemudian, Ptolemy of Alexandria mengabarkan bahwa di pedalaman Rhapta terdapat gunung yang berselimut salju. Kemungkinan besar itulah Kilimanjaro. Sumber lainnya adalah dari berita - berita kafilah dagang Cina dan Arab yang banyak menjelajahi Afrika sejak abad 11 dan 12 masehi.

Di tengah hujan ejekan terhadap kabar Rebmann tentang gunung bersalju di Afrika, ternyata masih ada pihak yang menaruh perhatian terhadap berita itu. Royal Geographical Society yang bermarkas di London dengan tangan terbuka bersedia mensponsori sebuah ekspedisi untuk membuktikan keberadaan gunung bersalju di Afrika itu.

Ekspedisi pertama itu dipimpin oleh seorang perwira angkatan bersenjata Inggris, Richard Burton. Bulan Desember tahun 1856 ekspedisi Burton berhasil mencapai Zanzibar. Lalu pada bulan Februari 1857 ia menjelajahi Fuga di rangkaian pegunungan Usambara. Namun belum sempat menjelajah lebih jauh, Burton yang menderita demam berat dan terpaksa membatalkan ekspedisi.

Kemudian ekspedisi lainnya pun menyusul. Kali ini Raja Ludwig dari Bavaria ( Jerman ) memberikan mandat kepada seorang petualang bernama Albrecht Roscher pada 1858 untuk meneliti pedalaman Afrika. Lalu pada 1860, seorang petualang Jerman lainnya, Baron Karl Klaus von der Decken berlayar ke Zanzibar dan rencananya akan bergabung dengan ekspedisi Roscher.

Ketika sampai di Zanzibar terdengar kabar bahwa Roscher telah terbunuh oleh pribumi di dekat Danau Nyasa. Ekspedisi Von der Decken kembali dilanjutkan pada tahun berikutnya. Kali ini bergabunglah seorang petualang Inggris bernama Richard Thornton. 29 Juni 1861, keduanya memulai petualangannya dari Mombasa. Setelah dua minggu menjelajah, akhirnya pada 14 Juli mereka untuk pertama kalinya melihat Kilimanjaro .

Gunung itu berkilauan indah sekali selama beberapa menit dan memperlihatkan alur - alur salju yang menggantungi sisi - sisinya di dasar beberapa lembah sampai hampir dasar bagian atas dari kubahnya.” Tulis Thornton dalam memoarnya.

Sayangnya, karena dihalangi oleh kepala - kepala suku setempat Von der Decken batal mendaki ke puncaknya. Ia harus puas hanya mencapai ketinggian 2.500 meter di sekitaran Kilimanjaro selama 19 hari. Namun usaha kedua petualang ini telah berhasil membuktikan keberadaan gunung bersalju di Afrika yang begitu dekat dengan Khatulistiwa.

Tapi ambisi Von der Decken yang tinggi membuatnya kembali lagi ke Kilimanjaro pada 1862 bersama Dr. Otto Kersten. Keinginan Von der Decken kembali pupus karena ia dan timnya hanya berhasil mencapai ketinggian 4.200 meter dan merasakan pengalaman diguyur hujan salju di daerah tropis.

Pendakian Kilimanjaro kembali terdengar lagi setelah sembilan tahun sejak Von der Decken turun gunung. Kali ini ekspedisi dilakukan oleh seorang pemuda Inggris yang sedang magang dalam misi penyebaran Kristen, Charles New.

Petualangannya ini didukung oleh Mandara, seorang kepala suku di kawasan Moshi. Charles New berhasil mencapai ketinggian sekitar 4.000 meter di punggungan antara Kilimanjaro dan Mawenzi. Serentetan penjelajahan ke Kilimanjaro kian ramai sejak 1883. Kala itu Dr. Gustav Fischer dari Jerman berhasil mendekati Kilimanjaro dan seorang ahli geologi Inggris, Joseph Thomson, berhasil pula mencapai ketinggian 2.700 meter.

Tahun 1884 Inggris mengirim seorang naturalis bernama Harry Johnston untuk meneliti flora dan fauna di Kilimanjaro. Johnston yang juga seorang artis dan panulis ini tiba di Zanzibar pada April 1884. Selain untuk keperluan penelitian, Johnston juga merangkap sebagai agen Inggris untuk menjajaki kemungkinan kolonialisasi di sana.

Selama beberapa bulan Johnston mengadakan hubungan dengan Mandara dan mendapatkan tanah di sana. Ia membangun rumah untuk orang - orangnya dan baru memulai penjelajahannya pada Oktober 1884. Ia berhasil mencapai ketinggian 4.955 lalu turun karena kondisi buruk.

Adalah Count Samuel Teleki dan rekannya Von Hohnel yang sempat “mampir” di Kilimanjaro pada Juni 1887. Petualangan mereka sebenarnya adalah untuk mencari letak danau Rudolf dan Stephanie di bagian utara Kenya. Mereka tak mampu mendaki lebih tinggi daripada 5.269 meter. Mereka turun karena kehabisan tenaga.

Pada tahun yang sama pula, Dr. Hans Meyer dan rekannya Herr von Eberstein mendaki Kilimanjaro. Ini adalah pendakian kedua mereka setelah sebelumnya berhasil mendaki hingga mencapai punggungan antara Kilimanjaro dan Mawenzi yang bersalju. Dari situ keduanya melanjutkan pendakian hingga mencapai ketinggian 4.500 meter. Saat itu Meyer dan Eberstein berhanti karena kelelahan. Akhirnya Meyer memutuskan meninggalkan Eberstein dan mendaki sendirian hingga mencapai ketinggian sekitar 5.500 meter.

Pada pendakian selanjutnya yang dilakukan pada tahun 1889, Meyer dikawani seorang pemandu gunung dari Salzburg, Ludwig Purtscheller. Kali ini dengan perencanaan yang lebih matang dari sebelumnya, meyer mendaki mulai dari ketinggian 4.300 meter. Kali ini puncak Kilimanjaro benar - benar berhasil di injak setelah 40 tahun sejak pertama kali diberitakan. Meyer Kemudian memberikan nama puncak itu dengan nama kaisar Jerman ketika itu, Puncak Kaiser Wilhelm Spitze.

CARTENZ PYRAMID


Sepenggal catatan yang bertarikh 16 Februari 1623 itu ditulis oleh seorang kapten kapal maskapai dagang Kerajaan Belanda, VOC, Jan Carstensz. Ia sedang berada di laut Arafuru ketika dilihatnya “pucuk” tertinggi di daratan Papua itu. Sebuah gunung salju mencuat dari tanah di dekat Khatulistiwa! Memang mula - mula orang tak percaya pada laporan Jan Carstensz ini.

Mungkin mereka pikir, mana ada salju di daerah tropis. Tapi setelah beberapa waktu kemudian terdengar kabar bahwa di pegunungan Andes, Amerika Selatan, juga terdapat gunung berpuncak tertutup salju, orang - orang mulai percaya akan kebenaran laporan sang kapten VOC itu. Lalu penghargaan atas dirinya pun menyusul. Carstensz Toppen hingga kini menjadi nama untuk puncak - puncak bersalju yang ia temukan.

Namun begitu, penjelajahan pertama untuk menaklukkan gunung ini baru dilakukan pertama kali lebih dari dua setengah abad berikutnya. Ekspedisi pertama dipimpin oleh H. A. Lorentz pada 1907. Petualang ini mencoba merambah pegunungan salju sebelah timur. Mengambil rute menelusuri sungai Wusak, Lorentz membutuhkan waktu selama enam bulan sebelum akhirnya menyerah karena keganasan alam.

1909 Lorentz sepertinya masih penasaran dan kembali mencoba untuk menaklukkannya. Kali ini ia membawa serombongan orang Dayak dari Kalimantan. Kepiawaian mereka menjinakkan sungai banyak membantu ekspedisi kedua Lorentz ini. hingga akhirnya pada 8 November 1909 ia berhasil menginjakkan kaki di salah satu puncak bersalju yang kemudian dinamai Puncak Wilhelmina.

Masih di tahun yang sama, British Ornithological Union mencoba merambah pegunungan bagian barat. Dengan rombongan besar yang terdiri dari lima ahli berkebangsaan Inggris, 50 orang pengangkut barang dari Maluku, sepuluh orang Gurkha, 44 tentara, ditambah tenaga 60 tahanan untuk mengangkut barang. Ekspedisi besar yang berlangsung hingga tahun 1911 ini berakhir dengan kegagalan total. Sebanyak 16 orang tewas dan 120 orang celaka.

Tahun 1912 salah seorang dari anggota peneliti BOU, Dr. A. F. R. Wollaston, seakan tak kapok menggelar lagi ekspedisi yang lebih besar lagi. Kali ini ia membawa 224 orang Dayak dengan mengambil rute menelusuri sungai Otakwa. Kali ini mereka berhasil mencapai padang salju di sebelah selatan dan mengumpulkan spesimen tumbuhan dari pegunungan itu.

Ekspedisi kembali dilakukan pada tahun 1936 oleh trio peneliti dan petualang Belanda Dr. A. H. Colijn, J. J. Dozy, dan H. Wissel dibantu oleh 12 perintis dan pengangkut barang orang Dayak. Untuk mempermudah ekpedisi ini, Wissel sebelumnya telah terbang dengan pesawat S-38 “Skorsky” mengangkut logistik kemudian menurunkannya di titik - titik yang nantinya akan mereka lalui.

Ekspedisi ini mengambil rute menjelajahi punggungan gunung sebelah selatan menelusuri sungai Otonama. Mereka berhasil mencapai ketinggian sekitar 4.000 meter di sekitaran lidah salju. Namun mereka lagi - lagi gagal mencapai puncak tertinggi di Cartenz Pyramid.

ACONCAGUA


Gunung Aconcagua adalah gunung tertinggi di benua Amerika yaitu 6.962 meter dari permukaan laut, terletak bersebelahan dengan pegunungan Andes, di propinsi Mendoza, Argentina. Letak persisnya sekitar 15 km dari perbatasan dengan Chile atau sekitar 75 km arah timur laut dari Santiago, ibukota Chile. Di sekeliling gunung ini terdapat "Aconcagua Provincial Park" dan di puncak gunung terdapat salju abadi yang sangat luas terbentang sekitar 10 km.

Bagi para pendaki, jalan paling mudah untuk ditempuh adalah dari bagian utara melalui jalan yang normal. Pilihan yang kedua adalah jalan yang dikenal dengan sebutan "Falso de los Polacos". Tetapi banyak juga para pendaki memilih jalan yang paling populer adalah melalui Polish Glacier itu sendiri.

Yang pertama dicatat sebagai pendakian adalah pada 14 Januari 1897 pada sebuah ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Edward FitzGerald. Orang termuda yang mencapai puncak Aconcagua adalah Matius Moniz dari Boulder, Colorado. Dia berusia 11 tahun ketika ia mencapai puncak pada 16 Desember 2008. Orang tertua untuk mendaki itu adalah Scott Lewis yang mencapai puncak pada tanggal 26 November 2007 ketika dia 87 tahun.

Di Sadur dari buku “ Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam ”, editor Rudy Badil terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Artikel terkait untuk dibaca



6 Belantara Indonesia Fans:

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Belantara Indonesia. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Sahabat alam Indonesia!