Subcribe to our RSS feeds Join Us on Facebook Follow us on Twitter Add to Circles
+82221152857 wijayadie@yahoo.com

Tentang Soe Hoek Gie

Sharing Yaa
Soe Hoek Gie di mata mahasiswa adalah sesosok demonstran tahun 60 an, dan di mata para pecinta alam dan penggiat alam bebas, Gie adalah anak Mapala UI yang tewas di Semeru pada tahun 1969. Mati muda dalam usia 27 tahun di Semeru dan menjadi legenda pendaki Indonesia yang sampai kini namanya masih teramat dekat dengan komunitas pecinta alam. Dan berikut ini kisah sedikit dari Soe Hoek Gie yang di sarikan dari buku hariannya, Catatan harian Seorang Demonstran, yang di perkuat oleh rekan pendakian ke Semeru  waktu itu, Rudy Badil.

“Saya sering mendapatinya asyik membaca di bangku panjang dekat dapur, kenang kakaknya, sosiolog Arief Budiman yang kini menetap di Australia. Kakak perempuannya Dien Pranata punya kenangan berbeda. Ketika anak-anak sebayanya asyik mengejar layangan, Gie malah nongkrong di atap genting rumah. “Matanya menerawang jauh, seperti mencoba menyelami buku-buku yang dibacanya.

Selain membaca, Gie juga suka menulis buku harian. Sejak usia 15 tahun, setiap hari, ia menulis apa saja yang dialaminya. Catatan harian pertamanya bertanggal 4 Maret 1957, ketika ia masih duduk di kelas 2 SMP Stada. Catatan terakhir bertanggal 10 Desember 1969, hanya seminggu sebelum kematiannya.


Di Puncak Pangrango


Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969 Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66.

Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media masa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung ketimbang menjadi anggota DPR-GR.

Sebagai anak muda, walaupun suka mengkritik dan doyan menyendiri, Gie ternyata sangat “gaul. “Penampilannya, biasa aja. Tapi kenalannya orang berpangkat dan nama-nama beken. Saya tahu, karena sering ikut dia. Misalnya saat ambil honor tulisan di Kompas atau Sinar Harapan. Nggak terbayang dia bisa kenalan dengan penyair Taufik Ismail dan Goenawan Mohamad! “, kata Badil.

Tewas Di Puncak Semeru

“Saya selalu ingat kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol, pamit, sebelum ke Semeru, begitu penggalan catatan harian Gie, Senin, 8 Desember 1969. Seminggu setelah itu, ia bersama Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo berangkat ke Gunung Semeru.

Siapa mengira, itulah terakhir kalinya mereka mendaki bersama Gie. Tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulangtahunnya ke 27 Gie dan Idhan Lubis tewas saat turun dari puncak karena menghirup uap beracun. Herman Lantang yang berada di dekat Gie saat kejadian melihat Gie dan Idhan kejang-kejang, berteriak dan mengamuk. Herman sempat mencoba menolong dengan napas buatan, tapi gagal.

Musibah kematian Gie di puncak Mahameru sempat membuat teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang. Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!, kata Badil.




Jenasah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24 Desember 1969, dia dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya kena gusur proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk sisa-sisa tulang belulang Gie.

“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung seperti patung, kata Rudy Badil.

Thank You : Masboi

Artikel terkait untuk dibaca



24 Belantara Indonesia Fans:

  1. Aww, belum tidur SyeikH?
    Kang Gie telah mati di Puncak semeru, tapi namanya ndak ada matinya
    (walo ane belum nyampe sono, padahal udah di Ranu Gumbolo)

    BalasHapus
  2. @Djangan Pakies bentar lagi Habib...hueheueheuehue....ya kasih story nya sini pendakian ke semeru nya..tar ku publishnya..hueheue

    BalasHapus
  3. @Djangan Pakies ya gpp lah..kan tahun segitu aku juga masih SD blm naik gunung..kwkkw..buat kenangan gtu Habib..

    BalasHapus
  4. @Belantara Indonesia ampun dah musiknya Habib ini..ada2 aja...aku suka kabur lho kalo ada musik, alesannya: ya ini di office ato di rumah selalu ada speaker aktif. Jadi pada kaget se RW...hahahahaha..melankolis bner...musik....

    BalasHapus
  5. perjuangan dan kata-kata nya sangat menyentuh...
    kira2.. masih ada gag iia, Gie Gie lainnya di zaman sekarang nii?!?!?

    BalasHapus
  6. lebih lengkapnya, bisa baca novelnya sob atau filmnya sob tentang nasionalisme seorang pemuda Gie berlatar belakang Tionghoa, pasti seru....

    BalasHapus
  7. @genial jaman kini susah boss...banyakan demonstrasi sama mabuk sih...hahahhahahhahhahaha

    BalasHapus
  8. @bgg yap aku juga dah liat pilm nya....emang mantap....

    BalasHapus
  9. biarpun aku gak pernah ketemu orgnya haha.. yaiyalah.. tapi aku udah nonton filmnya dan kayanya termasuk sosok yg namanya abadi tuh.......

    maaf nie Sob baru bisa berkunjung... semangat n happy blogging...

    BalasHapus
  10. @Ferdinand yah bareng deh komennya.....Tuhan emang maha kuasa ya bro....hehehehhe

    BalasHapus
  11. berkunjung untuk mencari info yang bermanfaat dari blog sobat
    terima kasih

    BalasHapus
  12. @Imtikhan makasih lho mas atas pujiannya...hehehe...jadi terpacu agar lebih baik...makasih sekali lagi

    BalasHapus
  13. wah salut deh buat Soe Hok Gie ..,

    sekarang sedang berusaha untuk menyelesaikan membaca buku hariannya Soe Hok Gie.., Catatan Seorang Demonstran..

    BalasHapus
  14. @Awaluddin Jamal salut juga sama mas bro yg mau tahu ttg Gie dan alam tentunya...salam

    BalasHapus
  15. Gas beracun itu bisa keluar kapan saja ya ?? atau cm jam tertentu saja
    Gimana juga cara kita antisipasi dan mengenali gas beracun Semeru ?

    BalasHapus
  16. @Santri Pecinta Alam antara jam 9 - 10 pagi gas dari Mahameru keluar maka jam segitu pendaki harusnya turun dari puncaknya...

    BalasHapus
  17. Kenangan yang memercikan temaram... duka itu pun kembali tersikab 16-17 Desember 2012

    BalasHapus
  18. Buku ini juga sudah saya baca, yang saya tertarik cuma masalah pendakian gunungnya. sedangkan politiknya saya gak ngerti.

    BalasHapus
  19. Hmm, Soe Hok Gie merupakan tokoh aktivis yang sangat kubanggakan.
    Tapi sayang nasib buruk menimpa beliau.
    :(

    BalasHapus
  20. Sebuah kisah perjalanan pendaki yang sangat mencintai alam, dan namanya selalu dikenang di kalangan dunia para pecinta alam.

    Sukses selalu
    Salam wisata

    BalasHapus
  21. Soe Hoek Gie...sy suka dg idealism nya...pendakian n menulis adl passionnya, dan perpolitikan nasional adl apresiasi object nya...semoga arwahnya d berikan ketenangan oleh-Nya...

    BalasHapus

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Belantara Indonesia. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Sahabat alam Indonesia!