Subcribe to our RSS feeds Join Us on Facebook Follow us on Twitter Add to Circles
+82221152857 wijayadie@yahoo.com
Memuat...

Elang Jawa

Sharing Yaa
Elang Jawa adalah endemik yang berada di pulau Jawa salah satu spesies Elang berukuran sedang. Dan di anggap selama ini identik dengan lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, dan yang bagusnya sejak tahun 1992, Elang Jawa di jadikan atau ditetapkan menjadi maskot satwa langka dan dilindungi di Indonesia.


Dan waktu itu Belantara Indonesia bisa menyaksikan keindahan dan kehebatan Elang Jawa di Gunung Lawu Jawa Tengah. Memang bagus dan layak kita jaga agar tak punah. Identifikasi Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60 - 70 cm ( dari ujung paruh hingga ujung ekor ). Kepala berwarna coklat kemerahan ( kadru ), dengan jambul yang tinggi menonjol ( 2 - 4 bulu, panjang hingga 12 cm ) dan tengkuk yang coklat kekuningan ( kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari ).

Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis ( sebetulnya garis - garis ) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret - coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis ( coret - coret ) rapat melintang merah sawo matang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu - bulu perut dan kaki.

Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar. Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera ( daging di pangkal paruh ) kekuningan; kaki ( jari ) kekuningan.

Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis - garis. Ketika terbang, Elang Jawa serupa dengan Elang Brontok ( Spizaetus cirrhatus ) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil. Bunyi nyaring tinggi, berulang - ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara Elang Brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.

Penyebaran dan konservasi 
Sebaran Elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat ( Taman Nasional Ujung Kulon ) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah - wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat - tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan - hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang - kadang 3.000 mdpl.


Pada umumnya tempat tinggal Elang Jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan Elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon - pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung - burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.

Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting - ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20 - 30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir, yang dierami selama kurang lebih 47 hari.

Pohon sarang merupakan jenis - jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala ( Altingia excelsa ), pasang ( Lithocarpus dan Quercus ), tusam ( Pinus merkusii ), puspa ( Schima wallichii ), dan ki sireum ( Eugenia clavimyrtus ). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang - sarang yang ditemukan hanya sejarak 200 - 300 m dari tempat rekreasi.

Di habitatnya, Elang Jawa menyebar jarang - jarang. Sehingga meskipun luas daerah tagihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137 - 188 pasang burung, atau perkiraan jumlah individu Elang ini berkisar antara 600 - 1.000 ekor. Populasi yang kecil ini menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis.

Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Dalam pada itu, Elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi.

Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah tagihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan Elang Jawa ke dalam status EN ( Endangered, terancam kepunahan ). Demikian pula, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang - undang.


Sesungguhnya keberadaan Elang Jawa telah diketahui sejak sedini tahun 1820, tatkala Van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda. Akan tetapi pada masa itu hingga akhir abad - 19, spesimen - spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis Elang Brontok.

Baru di tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis Elang gunung Spizaetus nipalensis

Demikianlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi

Artikel terkait untuk dibaca



6 Belantara Indonesia Fans:

  1. kunjungan minggu pagi...
    kasian bgt elang ini, hampir punah.

    BalasHapus
  2. @Willyo Alsyah P. Isman iya mas boss....di Lawu tinggal segelintir yang masih ada..di pasar Ngasem jogja..wah segudang di jual ilegal..kasian...

    BalasHapus
  3. Wah ada yang jual bebas ya brader...
    padahal populasi burung elang jawa ini bisa dihitung tinggal sedikit...!!!

    BalasHapus
  4. @ChugyGogog iya..mahal lagi brad....diem2..ilegal istilahnya..parah...

    BalasHapus
  5. Melihat bentuknya gagah sekali,harus di lestarikan ini.

    BalasHapus
  6. @blogger admin iya harus bro...manusia aja yg kurang bersukur memiliki hewan indah itu...payah yah..hhehehe

    BalasHapus

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Belantara Indonesia. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Sahabat alam Indonesia!