Gunung Lampobattang

Lampobattang artinya Perut Buncit.Terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung ini berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng. Seperti Gunung Bawakaraeng, gunung ini juga menjadi objek pendakian. Bila Gunung Bawakaraeng didaki lewat lokasi wisata Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Gunung Lampobattang didaki lewat Kecamatan [ Tompobulu ]. Seperti Gunung Bawakaraeng, gunung ini juga menjadi sasaran penganut singkritisme yang melakukan ibadah haji di puncak gunung ini pada musim haji bulan Zulhijah.


Berada di puncak Gunung Lompobattang, kita melihat puncak Bawakaraeng. Berdiri tegak dengan ketinggian 2.870 Mdpl suhu minimumnya adalah sekitar 15°C dan maksimumnya sekitar 27°C. Luas gunung ini adalah 82.77 km2. Hutan gunung Lampobatang termasuk dalam vegetasi hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan Atas. Tumbuhan yang banyak ditemui adalah jenis Podocarpos ( konifer Asli ), Arega sp. Pohon Mapel ( Acercaesicum ), Rotan, Paku Tiang, Paku Besar, Tahi angin ( Usnea/Lumut kerak/Lychenes ), Arbei ( Morus alba ), Buni ( diplycosi / berbau seperti gandapura ), Lumut Aerobryum, Edelweis ( andaphaus javanicum ), dan sebagainya. Sedangkan faunanya adalah Anoa ( Bulbalus depressicrnius ), babi hutan, babi rusa, burung coklat paruh panjang dan Elang sulawesi

Untuk mencapai Gunung ini, Dari Unhas kita harus naik mobil menuju Lembang Bu’ne ( desa terakhir menuju Gunung Lampobatang ) yang terletak di Kabupaten Janeponto Sulawesi Selatan. Untuk mencapai desa ini kita harus naik angkot tiga kali, yaitu dari Unhas menuju Jl. Peterani dan dari sini kami ganti mobil menuju terminal Loren ( Bungai Jaya ). Dari terminal Loren kita kembali harus mencari angkot jurusan Malakji.
Dari desa Lembang Bu’ne menuju pos 1 dibutuhkan waktu tempuh selam 1 jam melalui jalan setapak, memasuki perkebunan markisa kemudian memasuki hutan. Di pos 1 terdapat aliran sungai dengan air nya yang jernih. dilanjutkan perjalanan menuju pos 2 dengan jalur yang sedikit mulai menanjak tetapi belum terjal. Untuk mencapai pos 2 kita harus berjalan selama 1 jam dan di pos 2 ini juga terdapat aliran sungai sama dengan pos 1.

Setelah beristirahat di pos 2, perjalanan berlanjut menuju pos 3 ( 1532 Mdpl ). Untuk mencapai pos 3 kita harus berjalan mendaki selama 40 menit. Di pos 3 ini terdapat tempat camp yang dikelilingi pepohonan dan ada punggungan bukit bukit disrbelah kiri.

Dari pos 3 menuju pos 4 dibutuhkan waktu 35 menit dengan jalan yang mendaki dan sudah mulai terjal sehingga kita harus sangat hati – hati berjalan. Pos 4 yang terletak di puncak punggungan dengan lokasi camp agak terbuka.

Dari pos 4 sampai pos 5 dibutuhkan waktu perjalanan selama 50 menit melalui medan yang yang menanjak di punggungan sedang di kiri – kanannya terdapat tanaman perdu kemudian memasuki jalan setapak di antara batu – batu besar. Untuk mencapi pos 5 kita harus mengeluarkan tenaga ekstra karena jalan yang dilewati lebih susah dibandingkan pos sebelumnya. Di pos 5 terdapat tempat camp yang luas dikelilingi pohon berlumut.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju pos 6, dan untuk sampai di pos 6 kita harus berjalan mendaki selama 40 menit dengan jalur yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.. dari pos 6 menuju pos 7 dapat di tempuh selama 45 menit, melalui jalur yang cukup landai dan terdapat pohon yang kurus namun tinggidan berlumut. Di pos ini terdapat tempat camp yang luas, dan dari pos 7 ini kita sudah bisa melihat puncak dari gunung lampobattang ini. Tetapi masih butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai di puncak.

Perjalanan di lanjutkan menuju pos 8 yang dapat di tempuh selama 1 jam 45 menit dan dengan jalan menurun yang agak sempit, memutar kekanan kemudian kekiri. Dipos 8 terdapat banyak batu – batu besar dan dapat dijadikan tempat istirahat. Dari pos 8 menuju pos 9 dapat ditempuh selama 30 menit dengan medan yang bergelombang,dan kita harus mendaki bebatuan yang terjal dan jalan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat jurang yang sangat dalamdan curam. Dengan kondisi seperti ini kita harus berjalan sangat hati-hati. Di pos 9 ini terdapat tempat camp yang sangat luas dan di dekatnya terdapat batu yang sangat besardan dapat digunakan untuk tempat berteduh dan di dekatnya ada sumber air.

Untuk mencapai puncak, kita harus melalui tanjakan terjal berbatu dan di kanan dan kirinya terdapat jurang yang dalam. Perjalanan menuju puncak ini sangat sulit karena batu-batu yang dilewati agak licin dan kita harus merayap diatas bebatuan dengan sangat hati-hati karena kalau salah melangkahkan kaki akibatnya sangat fatal bahkan bila sampai jatuh maka nyawa bisa melayang. Untuk sampai di puncak Cuma di butuhkan waktu 45 menit dari pos 9. Dari puncak Gunung Lampobatang kita bisa melihat pemandangan yangsangat indah, Kita bisa melihat barisan pegunungan yang tampak hijau dan kota makassar yang terlihat kecil tampak di kejauhan. Tidak ada perijinan yang berbelit - belit untuk mendaki gunung ini, hanya perlu melapor ke kepala desa setempat dan untuk lebih baiknya menyertakan surat jalan yang dilampiri data lengkap para pendakinya. Bagi masyarakat Bugis, Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng diyakini sebagai dua gunung suci seperti Mekah dan Madinah, dua kota yang menjadi tujuan para jemaah haji di Arab Saudi. Mereka menyebut kedua gunung ini sebagai "Buta ka Siasia" atau Tanah Miskin. Sebab, kedua gunung tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang miskin dan tak mampu membiayai perjalanan haji ke Tanah Suci. Mereka meyakini bahwa nilai pahala yang diperoleh melalui salat Idul Adha di puncak salah satu gunung ini sama besarnya beribadah haji di Mekah. Sayangnya, tak ada yang mengetahui secara pasti sejak kapan pelaksanaan ibadah haji tradisional ini dilakukan.

Memang ganjil. Tapi, hampir setiap tahun menjelang Idul Adha, sebagian warga Bugis kerap melakukan perjalanan tersebut. Daeng Cacuk, warga Desa Cicorok, Kecamatan Malakaji, Kabupaten Gowa, misalnya. Bersama isteri dan kedua anaknya, Daeng Cacuk menjalani ritual ini. Bukit demi bukit mereka telusuri. Semak belukar mereka sibak tanpa menunjukkan rasa lelah sedikit pun. Cuaca pegunungan yang teramat dingin dengan suhu mencapai sekitar lima derajat Celsius juga tak menjadi halangan. Namun, sesekali mereka berhenti untuk sekadar beristirahat sejenak dan melaksanakan salat. Meski terasa berat, perjalanan ke puncak Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang ini dinilai akan lebih mempermudah untuk melangkah dalam pelaksanaan haji yang sebenarnya suatu saat kelak.

Pemerintah setempat sebenarnya telah melarang pelaksanaan ibadah haji di kedua gunung ini. Selain menyalahi aturan agama Islam, medan yang ditempuh sangat berat dan berbahaya. Tak heran, beberapa jalur yang biasa dilewati para jemaah ditutup dan selalu dijaga aparat keamanan setempat. Tapi, itu bukan menjadi halangan para jemaah. Jalur-jalur tikus yang justru lebih berbahaya pun dibuat. Padahal, sulitnya medan nan berbahaya ini kerap menimbulkan korban luka atau meninggal dunia. Hingga 2004 sedikit 29 orang tewas. Sebagian besar meninggal dunia akibat hypothermia, serangan penyakit yang disebabkan udara dingin. Tapi, ada pula yang tewas karena terjatuh saat melewati medan yang terjal. Itulah sebabnya, perjalanan para jemaah beberapa tahun terakhir ini mendapat kawalan dari Tim Search and Rescue Universitas Hasanuddin.

Tapi, semangat yang tinggi membuat para jemaah bersikeras tetap melakukan ibadah di puncak gunung. Dengan semangat ini pula Daeng Cacuk dan jemaah lainnya yang kerap lolos dari pengawasan penjaga hutan hingga akhirnya berkumpul di Kokbange, kawasan berketinggian 2.870 meter di atas permukaan laut. Tempat ini juga disebut "Butta Lompoah" atau tanah kebesaran dan dianggap mempunyai keberkahan yang sama dengan Madinah. Sebuah batu nisan yang dianggap sebagai kuburan Syekh Yusuf, seorang Wali Allah dan pejuang Islam terkenal dari Tanah Sulawesi ini juga diibaratkan sebagai makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Tempat akhir dari perjalanan berat ini telah sampai. Dengan perlengkapan seadanya, para jemaah mulai bebenah diri. Saat malam tiba, jemaah mulai menyiapkan diri menghadapi hawa malam yang kian dingin nyaris mencapai titik beku. Sebagian jemaah membuat api unggun. Sementara yang lainnya menyiapkan sebuah karung dan tenda plastik untuk menghangatkan diri mereka saat tidur malam hari.

Malam pun berlalu. Mentari pagi menyeruak di ufuk timur menandai datangnya hari Idul Adha. Sama halnya dengan seluruh umat Islam di seluruh dunia untuk melaksanakan salat Idul Adha dan saat para jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Di Kokbange, di puncak Gunung Lompobattang para peziarah tampak pula bersiap-siap untuk melaksanakan salat sunah seraya menahan udara dingin yang terasa menusuk tulang. Takbir dan tahmid mulai dikumandangkan menguak keheningan pagi di Kokbange.


Tapi, ada sedikit kebingungan terjadi saat para jemaah harus menentukan siapa yang akan menjadi imam. Umumnya mereka tak saling kenal sehingga tak tahu siapa yang paling pantas menjadi pemimpin salat berjamaah. Tapi, kebingungan tersebut tak berlangsung lama. Salah seorang dari jemaah disepakati untuk tampil menjadi imam. Salat Idul Adha di atas gunung keramat akhirnya dapat digelar. Selain para jemaah, beberapa orang dari Tim SAR Unhas juga ikut bergabung menjadi makmum.

Upacara tak berhenti sampai di sini. Usai melaksanakan salat, seorang jemaah melakukan ritual korban. Tapi, hewan yang dikorbankan bukan kambing atau sapi, melainkan seekor ayam. Sementara beberapa jemaah ada yang menyusuri sejumlah tempat yang dianggap keramat, termasuk kawasan yang disebut padang Arafah. Di sini terdapat batu aras atau arsy yang diyakini sebagai tempat berkumpulmnya para malaikat dan para wali Allah SWT. Di tempat inilah, mereka memanjatkan doa. Sebagian jemaah ada juga yang berniat untuk melewati jembatan Siratal Mustakim, berupa sebuah bukit yang menghubungkan Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng. Tapi, tebalnya kabut membuat rencana ini dibatalkan.

Anehnya, di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul dua orang yang menyebut dirinya Haji Koni dan Yusuf. Keduanya mengaku telah tujuh kali naik ke puncak Gunung Bawakaraeng dan Lompobatang. Singkat cerita kedua orang ini berhasil menarik simpati para jemaah. Kedua orang itu akhirnya diminta untuk mendoakan permintaan jemaah. Uniknya, para jemaah diminta mengumpulkan uang untuk didoakan. Setelah didoakan uang yang telah terkumpul itu dikembalikan kepada para pemiliknya masing-masing. Para jemaah berharap rezeki mereka akan datang berlimpah sehingga mempunyai cukup uang untuk dijadikan bekal menuju Tanah Suci dalam rangka menunaikan ibadah haji yang sebenarnya.

1 komentar:

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Belantara Indonesia. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Sahabat alam Indonesia!