Subcribe to our RSS feedsJoin Us on FacebookFollow us on TwitterAdd to Circles
+82221152857 wijayadie@yahoo.com

Gunung, Racun Yang Menyembuhkan!

Gunung merupakan suatu magnet tersendiri bagi pecinta alam. Magnet yang selalu membuat rindu untuk bertemu dengannya. Rindu merasakan ketenangan yang diberikan, rindu untuk menikmati keindahannya, dan rindu dicumbu mesra oleh dingin udaranya. Kerinduan - kerinduan itu hanyalah sebagian kecil dari banyak kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata.

www.belantaraindonesia.org

Awal Ku Temukan Jalan
Masih jelas teringat di benak saya, waktu pertama kali merasakan pendakian gunung. Saat itu, tahun 2012, saya masih semester lima di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Suatu pagi di kampus, salah satu kakak tingkat mengajak saya untuk mendaki Gunung Merbabu via Wekas. Saya tidak langsung memberi jawaban, iya atau tidak.

Jujur saat itu, saya bingung untuk menjawab. Saya belum pernah mendaki gunung sama sekali, tidak tahu medan di gunung, apa yang harus dibawa dan dipersiapakan. Saya minta waktu kepada kakak tingkat, untuk saya berpikir terlebih dahulu.

Malam harinya, saya mencari artikel - artikel mengenai pendakian gunung di internet. Kebanyakan dari artikel yang saya baca, mayoritas menyatakan bahwa pendakian gunung merupakan aktivitas yang menyenangkan dan menantang, karena di gunung, para pendaki bisa menikmati pemandangan yang indah yang tidak terdapat selain di gunung.

Adapula yang menyebutkan, bahwa pendakian gunung merupakan aktivitas untuk menguji ego, mental, dan kepribadian kita, karena di gunung, para pendaki dihadapkan dengan keadaan yang serba terbatas. Satu per satu artikel, saya baca dengan cermat dan teliti, saya tidak ingin meluputkan satu poin pun, yang berhubungan dengan apa itu pendakian. Setelah membaca kesekian artikel, akhirnya saya mulai tertarik dengan dunia pendakian. Saya pun membulatkan tekad untuk bergabung dalam pendakian ke Gunung Merbabu.

Masih ada sepekan, sebelum hari ‘H’ pendakian. Waktu sepekan itu saya manfaatkan untuk bertanya kepada kakak tingkat, mengenai apa saja yang harus dibawa dan dipersiapkan dalam pendakian. Jawabannya cukup memuaskan; fisik, pakaian, logistic, dan yang paling penting; niat.

Hari Yang Akan Merubah Hidup
Hari H pun tiba. Kami berjumlah delapan orang, semuanya laki - laki. Sebelum berangkat, kami saling mengecek barang bawaan, barangkali ada yang kurang. Setelah dirasa sudah lengkap, kami pun berangkat menuju basecamp Wekas. Kurang lebih 2½ jam perjalanan dari Yogyakarta.

www.belantaraindonesia.org

Sore hari kita sampai di basecamp Wekas. Disambut dengan cuaca kabut dan gerimis. Saya sempat ragu dan putus asa melihat cuaca seperti itu. Tapi kakak tingkat yang menjadi leader rombongan meyakinkan kami, bahwa keadaan seperti itu sudah biasa terjadi, sehingga tidak perlu cemas.

Rombongan menyempatkan diri makan di basecamp terlebih dahulu, sembari mengatur ulang barang bawaan. Terasa sekali rasa kebersamaan dan kerjasama antar anggota rombongan, untuk saling mengingatkan satu dengan lainnya.

Semuanya berkumpul membentuk lingkaran. Leader memberi arahan kepada rombongan dalam melakukan pendakian, diakhiri dengan berdoa memohon keselamatan. Gerimis masih turun mengguyuri tubuh kami, semua anggota rombongan pun menggunakan jas hujan.

Langkah - Langkah Kesabaran
Langkah demi langkah begitu saya nikmati. Pemandangan yang indah tetap saja terlihat, meskipun agak tertutup kabut. Sapa menyapa antar pendaki membuat hangat suasana. Senyum lebar dan ramah di antara mereka, laiknya bertemu keluarga. Keadaan yang jarang saya temukan di kampus dan kota. Selama perjalanan, sesekali rombongan berhenti untuk istirahat, mengatur nafas, minum, atau sekedar mengambil foto.

Setelah berjalan kurang lebih tiga jam, akhirnya rombongan sampai di Pos Pipa Bocor, tempat yang biasa digunakan pendaki untuk mendirikan tenda. Leader membagi tugas, ada yang mendirikan tenda, ada yang menyiapkan peralatan masak, dan ada yang mengambil air.

Tenda pun selesai didirikan, tim bagian masak pun sudah mulai melakukan tugasnya. Dimulai dari memasak air untuk membuat secangkir kopi, dilanjutkan memasak mie instan. Setelah perut seluruh anggota rombongan sudah terisi, tanpa di komando mereka sudah mengambil posisi untuk tidur.

Mencoba Bertahan Dalam Keterbatasan
Tenda yang digunakan adalah tenda pramuka, buka tenda dome. Sehingga hembus angin berhembus kencang memasuki tenda, dinginnya angin malam serasa menembus tulang - tulang kami. Saat itu, saya hanya menggunakan jaket biasa, bukan jaket gunung dan hanya kain sarung yang menutupi kaki, yang tak mampu menahan dingin.

www.belantaraindonesia.org

Hidung pun mulai mengeluarkan lendir - lendir, akibat tubuh belum mampu mengatur suhu. Gigi menggigil hebat, kaki dan tangan terasa mati, dan nafas tersengal - sengal akibat kekurangan oksigen. Tapi saya masih bisa bertahan, sambil mencari makanan di dalam tenda untuk mengganjal perut dan juga sebatang rokok untuk menghangatkan pernapasan.

Momen Yang Tak Terlupakan
Sampai dini hari, saya belum bisa untuk beristirahat. Saya mendekatkan diri ke api unggun di samping tenda, untuk menghangatkan tubuh. Saat momen itulah, saya baru sadar dengan pemandangan yang menakjubkan, ribuan bintang serasa disebar oleh para Malaikat malam itu, sangat terang benderang, berkelap kelip bak lampu kota, langit malam itu cerah tak berawan, angin tidak terlalu kencang. Wow! Tak ada satu kata pun yang dapat menggambarkan pemandangan malam itu, benar - benar lukisan karya Tuhan Yang Maha
Indah.

Perjalanan Menuju Puncak
Fajar pagi pun tiba. Leader memberikan pengarahan sebelum perjalanan menuju puncak, dia menyebutkan bahwa di Merbabu ada tiga puncak; puncak Tower, puncak Syarif, dan puncak Kenteng Songo. Kemudian menyerahkan kepada rombongan untuk memutuskan puncak mana yang dipilih. Rombongan sepakat untuk memilih puncak yang terendah, yaitu puncak Tower. Keputusan ini dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan juga logistik rombongan.

Singkat cerita, perjalanan ke puncak pun dimulai. Medan yang dihadapi bervariasi dan menantang. Mulai dari tanah, pasir, dan juga bebatuan. Terpeleset, jatuh, dan tangan terluka merupakan suatu hal yang dianggap wajar dalam aktivitas mendaki gunung. Setelah sekitar 1 ½ jam berjalan, akhirnya kami sampai di puncak Tower. Puncak Tower terdiri dari sebuah bangunan yang berbentuk kotak dan sebuah tower pemancar yang tidak berfungsi, itulah kenapa puncak ini dinamakan puncak Tower.

www.belantaraindonesia.org

Pelajaran Dan Kebesaran Dari Tuhan
Pemadangan yang menakjubkan tersaji di depan mata. Hamparan pegunungan terlihat berbari sangat rapi, lautan awan putih yang seolah berombak tak kalah menawan, dan luasnya biru langit menjadikan lukisan Tuhan begitu sempurna. Lelah tubuh terasa terbayar, keputus - asaan dibayar dengan kepuasan, dan kekecewaan diganti dengan keindahan tak tergantikan.

Lukisan Tuhan seperti inilah, yang membuat saya merasa lemah dan kecil di hadapan semesta alam. Rasa sombong dan angkuh sirna seketika, mungkin inilah yang dimaksud dengan pengujian ego, mental, dan kepribadian bagi pendaki gunung. Karena dihadapkan dengan sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuatan manusia dan dipaksa untuk mengakuinya, mau tak mau, dan terima atau tidak.

Hari semakin terik. Rombongan memutuskan untuk turun ke tempat camping. Setelah berkemas, kita beristirahat sejenak untuk kemudian meneruskan perjalanan ke basecamp. Kurang lebih satu jam perjalanan, saya dan rombongan sampai juga di basecamp. Rasa lelah dan berat membuat kami pun memutuskan untuk rehat, sebelum meneruskan perjalanan ke rumah masing - masing.

Racun Yang menyembuhkan
Setelah pendakian pertama itu, saya ketagihan untuk mendaki gunung. Tak kurang empat gunung yang berbeda, saya daki dalam kurun waktu satu bulan setelahnya; Sumbing, Slamet, Lawu, dan Merapi. Dan setelah hampir tiga tahun mendaki gunung, saya sudah mendaki kembali gunung Merbabu sebanyak tujuh kali tanpa merasa bosan sedikitpun.

Karena bagi saya, mendaki gunung adalah racun yang menyembuhkan dari penyakit - penyakit akibat kehidupan kota yang sudah tidak seimbang. Dengan mendaki gunung lah, saya mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan kawan, yang tidak saya dapatkan di kampus maupun tempat lainnya. Saya menganggap gunung adalah taman bermain yang paling sempurna, karena memberi kesenangan, kebahagian, dan keseimbangan.

Budi Kusriyanto Divisi Gunung Belantara Indonesia
Gunung merupakan suatu magnet tersendiri bagi pecinta alam. Magnet yang selalu membuat rindu untuk bertemu dengannya. Rindu merasakan ketenangan yang diberikan, rindu untuk menikmati keindahannya, dan rindu dicumbu mesra oleh dingin udaranya. Kerinduan - kerinduan itu hanyalah sebagian kecil dari banyak kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata.

www.belantaraindonesia.org

Awal Ku Temukan Jalan
Masih jelas teringat di benak saya, waktu pertama kali merasakan pendakian gunung. Saat itu, tahun 2012, saya masih semester lima di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Suatu pagi di kampus, salah satu kakak tingkat mengajak saya untuk mendaki Gunung Merbabu via Wekas. Saya tidak langsung memberi jawaban, iya atau tidak.

Jujur saat itu, saya bingung untuk menjawab. Saya belum pernah mendaki gunung sama sekali, tidak tahu medan di gunung, apa yang harus dibawa dan dipersiapakan. Saya minta waktu kepada kakak tingkat, untuk saya berpikir terlebih dahulu.

Malam harinya, saya mencari artikel - artikel mengenai pendakian gunung di internet. Kebanyakan dari artikel yang saya baca, mayoritas menyatakan bahwa pendakian gunung merupakan aktivitas yang menyenangkan dan menantang, karena di gunung, para pendaki bisa menikmati pemandangan yang indah yang tidak terdapat selain di gunung.

Adapula yang menyebutkan, bahwa pendakian gunung merupakan aktivitas untuk menguji ego, mental, dan kepribadian kita, karena di gunung, para pendaki dihadapkan dengan keadaan yang serba terbatas. Satu per satu artikel, saya baca dengan cermat dan teliti, saya tidak ingin meluputkan satu poin pun, yang berhubungan dengan apa itu pendakian. Setelah membaca kesekian artikel, akhirnya saya mulai tertarik dengan dunia pendakian. Saya pun membulatkan tekad untuk bergabung dalam pendakian ke Gunung Merbabu.

Masih ada sepekan, sebelum hari ‘H’ pendakian. Waktu sepekan itu saya manfaatkan untuk bertanya kepada kakak tingkat, mengenai apa saja yang harus dibawa dan dipersiapkan dalam pendakian. Jawabannya cukup memuaskan; fisik, pakaian, logistic, dan yang paling penting; niat.

Hari Yang Akan Merubah Hidup
Hari H pun tiba. Kami berjumlah delapan orang, semuanya laki - laki. Sebelum berangkat, kami saling mengecek barang bawaan, barangkali ada yang kurang. Setelah dirasa sudah lengkap, kami pun berangkat menuju basecamp Wekas. Kurang lebih 2½ jam perjalanan dari Yogyakarta.

www.belantaraindonesia.org

Sore hari kita sampai di basecamp Wekas. Disambut dengan cuaca kabut dan gerimis. Saya sempat ragu dan putus asa melihat cuaca seperti itu. Tapi kakak tingkat yang menjadi leader rombongan meyakinkan kami, bahwa keadaan seperti itu sudah biasa terjadi, sehingga tidak perlu cemas.

Rombongan menyempatkan diri makan di basecamp terlebih dahulu, sembari mengatur ulang barang bawaan. Terasa sekali rasa kebersamaan dan kerjasama antar anggota rombongan, untuk saling mengingatkan satu dengan lainnya.

Semuanya berkumpul membentuk lingkaran. Leader memberi arahan kepada rombongan dalam melakukan pendakian, diakhiri dengan berdoa memohon keselamatan. Gerimis masih turun mengguyuri tubuh kami, semua anggota rombongan pun menggunakan jas hujan.

Langkah - Langkah Kesabaran
Langkah demi langkah begitu saya nikmati. Pemandangan yang indah tetap saja terlihat, meskipun agak tertutup kabut. Sapa menyapa antar pendaki membuat hangat suasana. Senyum lebar dan ramah di antara mereka, laiknya bertemu keluarga. Keadaan yang jarang saya temukan di kampus dan kota. Selama perjalanan, sesekali rombongan berhenti untuk istirahat, mengatur nafas, minum, atau sekedar mengambil foto.

Setelah berjalan kurang lebih tiga jam, akhirnya rombongan sampai di Pos Pipa Bocor, tempat yang biasa digunakan pendaki untuk mendirikan tenda. Leader membagi tugas, ada yang mendirikan tenda, ada yang menyiapkan peralatan masak, dan ada yang mengambil air.

Tenda pun selesai didirikan, tim bagian masak pun sudah mulai melakukan tugasnya. Dimulai dari memasak air untuk membuat secangkir kopi, dilanjutkan memasak mie instan. Setelah perut seluruh anggota rombongan sudah terisi, tanpa di komando mereka sudah mengambil posisi untuk tidur.

Mencoba Bertahan Dalam Keterbatasan
Tenda yang digunakan adalah tenda pramuka, buka tenda dome. Sehingga hembus angin berhembus kencang memasuki tenda, dinginnya angin malam serasa menembus tulang - tulang kami. Saat itu, saya hanya menggunakan jaket biasa, bukan jaket gunung dan hanya kain sarung yang menutupi kaki, yang tak mampu menahan dingin.

www.belantaraindonesia.org

Hidung pun mulai mengeluarkan lendir - lendir, akibat tubuh belum mampu mengatur suhu. Gigi menggigil hebat, kaki dan tangan terasa mati, dan nafas tersengal - sengal akibat kekurangan oksigen. Tapi saya masih bisa bertahan, sambil mencari makanan di dalam tenda untuk mengganjal perut dan juga sebatang rokok untuk menghangatkan pernapasan.

Momen Yang Tak Terlupakan
Sampai dini hari, saya belum bisa untuk beristirahat. Saya mendekatkan diri ke api unggun di samping tenda, untuk menghangatkan tubuh. Saat momen itulah, saya baru sadar dengan pemandangan yang menakjubkan, ribuan bintang serasa disebar oleh para Malaikat malam itu, sangat terang benderang, berkelap kelip bak lampu kota, langit malam itu cerah tak berawan, angin tidak terlalu kencang. Wow! Tak ada satu kata pun yang dapat menggambarkan pemandangan malam itu, benar - benar lukisan karya Tuhan Yang Maha
Indah.

Perjalanan Menuju Puncak
Fajar pagi pun tiba. Leader memberikan pengarahan sebelum perjalanan menuju puncak, dia menyebutkan bahwa di Merbabu ada tiga puncak; puncak Tower, puncak Syarif, dan puncak Kenteng Songo. Kemudian menyerahkan kepada rombongan untuk memutuskan puncak mana yang dipilih. Rombongan sepakat untuk memilih puncak yang terendah, yaitu puncak Tower. Keputusan ini dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan juga logistik rombongan.

Singkat cerita, perjalanan ke puncak pun dimulai. Medan yang dihadapi bervariasi dan menantang. Mulai dari tanah, pasir, dan juga bebatuan. Terpeleset, jatuh, dan tangan terluka merupakan suatu hal yang dianggap wajar dalam aktivitas mendaki gunung. Setelah sekitar 1 ½ jam berjalan, akhirnya kami sampai di puncak Tower. Puncak Tower terdiri dari sebuah bangunan yang berbentuk kotak dan sebuah tower pemancar yang tidak berfungsi, itulah kenapa puncak ini dinamakan puncak Tower.

www.belantaraindonesia.org

Pelajaran Dan Kebesaran Dari Tuhan
Pemadangan yang menakjubkan tersaji di depan mata. Hamparan pegunungan terlihat berbari sangat rapi, lautan awan putih yang seolah berombak tak kalah menawan, dan luasnya biru langit menjadikan lukisan Tuhan begitu sempurna. Lelah tubuh terasa terbayar, keputus - asaan dibayar dengan kepuasan, dan kekecewaan diganti dengan keindahan tak tergantikan.

Lukisan Tuhan seperti inilah, yang membuat saya merasa lemah dan kecil di hadapan semesta alam. Rasa sombong dan angkuh sirna seketika, mungkin inilah yang dimaksud dengan pengujian ego, mental, dan kepribadian bagi pendaki gunung. Karena dihadapkan dengan sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuatan manusia dan dipaksa untuk mengakuinya, mau tak mau, dan terima atau tidak.

Hari semakin terik. Rombongan memutuskan untuk turun ke tempat camping. Setelah berkemas, kita beristirahat sejenak untuk kemudian meneruskan perjalanan ke basecamp. Kurang lebih satu jam perjalanan, saya dan rombongan sampai juga di basecamp. Rasa lelah dan berat membuat kami pun memutuskan untuk rehat, sebelum meneruskan perjalanan ke rumah masing - masing.

Racun Yang menyembuhkan
Setelah pendakian pertama itu, saya ketagihan untuk mendaki gunung. Tak kurang empat gunung yang berbeda, saya daki dalam kurun waktu satu bulan setelahnya; Sumbing, Slamet, Lawu, dan Merapi. Dan setelah hampir tiga tahun mendaki gunung, saya sudah mendaki kembali gunung Merbabu sebanyak tujuh kali tanpa merasa bosan sedikitpun.

Karena bagi saya, mendaki gunung adalah racun yang menyembuhkan dari penyakit - penyakit akibat kehidupan kota yang sudah tidak seimbang. Dengan mendaki gunung lah, saya mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan kawan, yang tidak saya dapatkan di kampus maupun tempat lainnya. Saya menganggap gunung adalah taman bermain yang paling sempurna, karena memberi kesenangan, kebahagian, dan keseimbangan.

Budi Kusriyanto Divisi Gunung Belantara Indonesia
Read More
4 comments

Tips Belanja Alat Pendakian Gunung Secara Online

Para pendaki gunung pemula sering mengeluhkan tidak memiliki alat – alat untuk menunjang kegiatan pendakian gunungnya, seperti tenda dome, sleeping bag, matras, sepatu gunung dan lain – lain. Kebanyakan dari mereka akan bertanya kesana kemari dan melupakan bahwa jaman sudah maju dengan teknologinya. Yakni Internet! Mereka lupa bahwa ada tempat untuk bertanya apa saja yang lebih terpercaya.

www.blanja.com

Browsing di internet dan mencari toko yang menjual alat – alat pendakian gunung lebih mudah dilakukan daripada harus bertanya kesana kemari dan belum tentu mendapatkan apa yang di inginkannya. Dan apalagi jika kita menginginkan barang seken, tentu mudah dan tak perlu kita sungkan karena barang kita membeli seken.

Di internet banyak toko yang menawarkan alat pendakian gunung dan umumnya mereka menawarkan cara berbelanja secara online, yakni menurut Wikipedia adalah berbelanja tanpa memerlukan komunikasi dengan tatap muka. Yang mudahnya kita memilih barang, mentransfer sejumlah uang sesuai harga barang dan kita akan mendapat kiriman barang tersebut. Menghemat tenaga bukan?

Tetapi banyak yang mengkhawatirkan belanja secara online tersebut tidak aman. Takut jika kita sudah mentransfer dana, ternyata barang tak terkirimkan. Lalu bagaimana tips agar kita berbelanja alat pendakian gunung secara online dengan aman?

Sederhana dan mudah sebenarnya. Karena belanja online yang utama bermodalkan kepercayaan antar pembeli dan penjual, maka kita harus mengetahui reputasi toko tersebut, alamat validnya dan testimoni yang ada di web toko online tersebut.

Biasanya karena kepuasan pembeli, mereka akan meninggalkan testimoni kepuasan atas barang yang mereka beli. Dari mulai pujian terhadap produk dan kelancaran serta ketepatan pengiriman barang.

Detailkan barang yang akan kita beli dengan cara kita bertanya lebih dalam kepada penjual, jangan takut kita di anggap cerewet, jika jawaban dari penjual kita rasa memuaskan, mengapa kita ragu untuk membelinya?

Metode belanja secara online juga pada masa sekarang sudah menjadi semacam trend setter. Kebanyakan orang akan bangga jika ditanya tentang barangnya dan dijawab beli secara online. Paling tidak kita sudah mengikuti perkembangan jaman tidak lagi perlu mondar mandir dipertokoan.

Pendakian gunung memang sebuah kegiatan yang tidak boleh kita anggap sepele, lengkapi pendakian kita dengan alat – alat yang pas dan tepat demi keselamatan kita. Bila repot harus membeli dimana, belanjalah secara online, lebih mudah dan tak melelahkan.

Bila hendak berbelanja secara online lebih akurat lagi dan tak harus bingung browsing kesana kemari di internet, langsung saja buka tab browser dan kita ketikkan www.blanja.com di sana kita bisa memilih barang yang kita perlukan dengan mudah dan pengiriman yang tepat waktu. Silahkan berbelanja di www.blanja.com
Para pendaki gunung pemula sering mengeluhkan tidak memiliki alat – alat untuk menunjang kegiatan pendakian gunungnya, seperti tenda dome, sleeping bag, matras, sepatu gunung dan lain – lain. Kebanyakan dari mereka akan bertanya kesana kemari dan melupakan bahwa jaman sudah maju dengan teknologinya. Yakni Internet! Mereka lupa bahwa ada tempat untuk bertanya apa saja yang lebih terpercaya.

www.blanja.com

Browsing di internet dan mencari toko yang menjual alat – alat pendakian gunung lebih mudah dilakukan daripada harus bertanya kesana kemari dan belum tentu mendapatkan apa yang di inginkannya. Dan apalagi jika kita menginginkan barang seken, tentu mudah dan tak perlu kita sungkan karena barang kita membeli seken.

Di internet banyak toko yang menawarkan alat pendakian gunung dan umumnya mereka menawarkan cara berbelanja secara online, yakni menurut Wikipedia adalah berbelanja tanpa memerlukan komunikasi dengan tatap muka. Yang mudahnya kita memilih barang, mentransfer sejumlah uang sesuai harga barang dan kita akan mendapat kiriman barang tersebut. Menghemat tenaga bukan?

Tetapi banyak yang mengkhawatirkan belanja secara online tersebut tidak aman. Takut jika kita sudah mentransfer dana, ternyata barang tak terkirimkan. Lalu bagaimana tips agar kita berbelanja alat pendakian gunung secara online dengan aman?

Sederhana dan mudah sebenarnya. Karena belanja online yang utama bermodalkan kepercayaan antar pembeli dan penjual, maka kita harus mengetahui reputasi toko tersebut, alamat validnya dan testimoni yang ada di web toko online tersebut.

Biasanya karena kepuasan pembeli, mereka akan meninggalkan testimoni kepuasan atas barang yang mereka beli. Dari mulai pujian terhadap produk dan kelancaran serta ketepatan pengiriman barang.

Detailkan barang yang akan kita beli dengan cara kita bertanya lebih dalam kepada penjual, jangan takut kita di anggap cerewet, jika jawaban dari penjual kita rasa memuaskan, mengapa kita ragu untuk membelinya?

Metode belanja secara online juga pada masa sekarang sudah menjadi semacam trend setter. Kebanyakan orang akan bangga jika ditanya tentang barangnya dan dijawab beli secara online. Paling tidak kita sudah mengikuti perkembangan jaman tidak lagi perlu mondar mandir dipertokoan.

Pendakian gunung memang sebuah kegiatan yang tidak boleh kita anggap sepele, lengkapi pendakian kita dengan alat – alat yang pas dan tepat demi keselamatan kita. Bila repot harus membeli dimana, belanjalah secara online, lebih mudah dan tak melelahkan.

Bila hendak berbelanja secara online lebih akurat lagi dan tak harus bingung browsing kesana kemari di internet, langsung saja buka tab browser dan kita ketikkan www.blanja.com di sana kita bisa memilih barang yang kita perlukan dengan mudah dan pengiriman yang tepat waktu. Silahkan berbelanja di www.blanja.com
Read More
19 comments

Sang Pemberani Yang Masuk Dalam Kawah Merapi

Di balik sukses evakuasi Eri Yunanto, Mahasiswa Atmajaya Yogyakarta yang jatuh ke dalam kawah Gunung Merapi pada Sabtu 16 Mei 2015, ada 6 pemberani yang gagah yang bernyali memasuki kawah Gunung Merapi untuk memasangkan tali ke tubuh survivor agar bisa di angkat dari dasar jurang kawah. Memang, di balik sukses besar ada keberanian yang besar pula.

www.belantaraindonesia.org

Enam orang tersebut adalah Bakat Setyawan alias Lahar, Endro Sambodo, Andry Suzanto, Muchsin, Rahmadiono dan Ridho. Nama pertama berasal dari relawan Barameru Boyolali, sedangkan lima nama terakhir berasal dari Tim SAR DIY.

Dari keenam orang itu, hanya dua orang yang benar - benar masuk hingga dasar kawah, sedangkan empat lainnya memberikan back - up di ketinggian 50 meter dari dasar kawah. Dua orang yang masuk hingga dasar itu adalah Bakat Setyawan alias Lahar dan Endro Sambodo.

Bagi Bakat, masuk ke kawah Merapi bukan hal baru. Tahun 2014 lalu, dia juga melakukan hal serupa pada bulan Mei dan November 2014 lalu, dalam rangka pemetaan mitigasi bencana. Bahkan Bakat, atau yang akrab disapa Lahar oleh kawan - kawan sesama relawan, pernah memperkirakan bahwa kejadian yang dialami Eri kali ini akan terjadi pada suatu saat.

Kerja keras sebagai relawan sudah dilakoni Bakat sejak bergabung di Relawan Barameru Boyolali sejak tahun 2008. Tak cuma membantu pendaki yang tersesat atau hilang, lelaki itu juga membantu warga ketika Merapi mengalami erupsi dari waktu ke waktu.

www.belantaraindonesia.org

Bahkan tak cuma di Merapi, Bakat juga beberapa kali datang ke lokasi bencana gunung meletus di daerah lain, untuk membantu warga yang menjadi korban. "Saya beberapa kali ke Sinabung untuk membantu menyelamatkan warga dari amukan lahar panas di sana," ujar pemuda asal Desa Kembang Kuning, Cepogo, Boyolali tersebut.

Untuk Di Ingat
Banyaknya pendaki yang sampai ke puncak Merapi, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya pop media sosial ( medsos ). Hal itu membuat pendaki pemula yang belum berpengalaman ikut - ikutan dalam tren tersebut.

Tren mengunggah foto di puncak Merapi, bisa mengakibatkan pendaki pemula merasa ingin ikut - ikutan. Secara protap teknis, pihak TNGM sudah melakukan berbagai peringatan melalui petugas basecamp ataupun papan peringatan. Akan tetapi hal tersebut masih banyak dilanggar oleh pendaki.

Standard perlengkapan pendakian pun masih banyak dilanggar, ada beberapa diantaranya masih membawa celana jeans ataupun pendek, bekal minum yang mereka bawa pun masih kurang. Hal - hal tersebut lah yang kemudian perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Para pendaki sebaiknya  mematuhi semua peraturan pendakian, khususnya di Gunung Merapi. Termasuk diantaranya larangan untuk "muncak", pada puncak setinggi sekitar 2.968 Mdpl tersebut..
Di balik sukses evakuasi Eri Yunanto, Mahasiswa Atmajaya Yogyakarta yang jatuh ke dalam kawah Gunung Merapi pada Sabtu 16 Mei 2015, ada 6 pemberani yang gagah yang bernyali memasuki kawah Gunung Merapi untuk memasangkan tali ke tubuh survivor agar bisa di angkat dari dasar jurang kawah. Memang, di balik sukses besar ada keberanian yang besar pula.

www.belantaraindonesia.org

Enam orang tersebut adalah Bakat Setyawan alias Lahar, Endro Sambodo, Andry Suzanto, Muchsin, Rahmadiono dan Ridho. Nama pertama berasal dari relawan Barameru Boyolali, sedangkan lima nama terakhir berasal dari Tim SAR DIY.

Dari keenam orang itu, hanya dua orang yang benar - benar masuk hingga dasar kawah, sedangkan empat lainnya memberikan back - up di ketinggian 50 meter dari dasar kawah. Dua orang yang masuk hingga dasar itu adalah Bakat Setyawan alias Lahar dan Endro Sambodo.

Bagi Bakat, masuk ke kawah Merapi bukan hal baru. Tahun 2014 lalu, dia juga melakukan hal serupa pada bulan Mei dan November 2014 lalu, dalam rangka pemetaan mitigasi bencana. Bahkan Bakat, atau yang akrab disapa Lahar oleh kawan - kawan sesama relawan, pernah memperkirakan bahwa kejadian yang dialami Eri kali ini akan terjadi pada suatu saat.

Kerja keras sebagai relawan sudah dilakoni Bakat sejak bergabung di Relawan Barameru Boyolali sejak tahun 2008. Tak cuma membantu pendaki yang tersesat atau hilang, lelaki itu juga membantu warga ketika Merapi mengalami erupsi dari waktu ke waktu.

www.belantaraindonesia.org

Bahkan tak cuma di Merapi, Bakat juga beberapa kali datang ke lokasi bencana gunung meletus di daerah lain, untuk membantu warga yang menjadi korban. "Saya beberapa kali ke Sinabung untuk membantu menyelamatkan warga dari amukan lahar panas di sana," ujar pemuda asal Desa Kembang Kuning, Cepogo, Boyolali tersebut.

Untuk Di Ingat
Banyaknya pendaki yang sampai ke puncak Merapi, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya pop media sosial ( medsos ). Hal itu membuat pendaki pemula yang belum berpengalaman ikut - ikutan dalam tren tersebut.

Tren mengunggah foto di puncak Merapi, bisa mengakibatkan pendaki pemula merasa ingin ikut - ikutan. Secara protap teknis, pihak TNGM sudah melakukan berbagai peringatan melalui petugas basecamp ataupun papan peringatan. Akan tetapi hal tersebut masih banyak dilanggar oleh pendaki.

Standard perlengkapan pendakian pun masih banyak dilanggar, ada beberapa diantaranya masih membawa celana jeans ataupun pendek, bekal minum yang mereka bawa pun masih kurang. Hal - hal tersebut lah yang kemudian perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Para pendaki sebaiknya  mematuhi semua peraturan pendakian, khususnya di Gunung Merapi. Termasuk diantaranya larangan untuk "muncak", pada puncak setinggi sekitar 2.968 Mdpl tersebut..
Read More
19 comments

Foto Terakhir Sebelum Jatuh Ke Kawah Merapi

Kabar tentang Eri Yunanto seorang pendaki dari Yogyakarta yang terjatuh di kawah Merapi setelah berfoto ria itu bukanlah insiden tragis yang pertama kali terjadi di dunia. Demi sebuah momen bagus di alam, kadang ada risiko yang mengancam. Dan semoga hal tersebut bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi pendaki lain.

www.belantaraindonesia.org
Foto - foto yang direkam sesama rekan pendaki Dicky memperlihatkan posisi Eri Yunanto sebelum jatuh ke kawah Gunung Merapi
Salah satu pendaki sempat merekam posisi Eri Yunanto di Puncak Garuda sebelum mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta itu jatuh ke kawah Gunung Merapi, Sabtu 16 Mei 2015 lalu. Foto rekaman Dicky, teman dekat Eri menjadi petunjuk bagi tim pencarian untuk mencari tubuh Eri.

"Saya sempat mengambil fotonya dua kali, setelah itu ia hendak turun, dalam sepersekian detik ia terpeleset dan terjatuh berguling," kata Dicky.

Dicky mengatakan, sebelum Eri menaiki batu Puncak Garuda, ada pendaki lain yang telah berhasil naik kemudian menuruni batuan tersebut. Eri kemudian menyusul naik, namun jatuh saat turun dari batu.

"Ia sudah sempat diingatkan oleh pendaki lainnya, kalau ingin naik jangan ragu - ragu, kalau ragu tidak usah saja. Ia memang berhasil naik, namun kemudian ketika hendak turun dirinya merasa ragu, hingga akhirnya saya diminta untuk menghadang tepat didepannya, untuk menjaganya," tuturnya.

"Motivasi terbesar Eri memang untuk berfoto di tempat tersebut, dari rumah sudah ia niatkan untuk dapat mengambil foto di situ ( batu Puncak Garuda ). Kalau saya malah takut untuk menaiki puncak tersebut," ujarnya.

Tidak disangka, Eri terperosok jatuh ke sisi kanan puncak menuju kawah. Menurut Dicky, terpelesetnya Eri berlangsung sangat cepat. Ia hanya dapat menyaksikan temannya itu jatuh ke sebelah kanan lalu terguling menuju kawah. Dirinya menambahkan, temannya itu baru kali pertama menaiki Gunung Merapi.

Operasi pencarian survivor Eri Yunanto memakai alat khusus berupa alat bantu pernapasan ( breathing aparatus ) dan pesawat mini tanpa awak ( drone ).

Pengendali Misi Pencarian ( SMC ) Suwiknya mengatakan, dua alat tersebut berfungsi untuk mempermudah pencarian. Hal itu berkait medan dan kondisi jatuhnya survivor di kawah Merapi.

"Drone kami gunakan untuk memetakan tempat dugaan jatuhnya pendaki. Dari situ akan dievaluasi jalur yang bisa ditempuh oleh penyelamat. Kami menerjunkan dua drone, dalam misi ini," ujarnya.

Sementara itu, breathing aparatus berfungsi untuk mengurangi risiko terhirupnya gas beracun yang ada di kawah Merapi.

"Kami juga harus melihat arah angin, sebab bila angin cenderung diam, hal itu justru berbahaya untuk penyelamat, karena konsentrasi gas beracun tinggi. Kalau ada angin berembus, maka udara akan bersirkulasi," tutur Suwiknya yang juga Kepala Resort Selo SPTN wilayah II Boyolali.  NG
Kabar tentang Eri Yunanto seorang pendaki dari Yogyakarta yang terjatuh di kawah Merapi setelah berfoto ria itu bukanlah insiden tragis yang pertama kali terjadi di dunia. Demi sebuah momen bagus di alam, kadang ada risiko yang mengancam. Dan semoga hal tersebut bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi pendaki lain.

www.belantaraindonesia.org
Foto - foto yang direkam sesama rekan pendaki Dicky memperlihatkan posisi Eri Yunanto sebelum jatuh ke kawah Gunung Merapi
Salah satu pendaki sempat merekam posisi Eri Yunanto di Puncak Garuda sebelum mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta itu jatuh ke kawah Gunung Merapi, Sabtu 16 Mei 2015 lalu. Foto rekaman Dicky, teman dekat Eri menjadi petunjuk bagi tim pencarian untuk mencari tubuh Eri.

"Saya sempat mengambil fotonya dua kali, setelah itu ia hendak turun, dalam sepersekian detik ia terpeleset dan terjatuh berguling," kata Dicky.

Dicky mengatakan, sebelum Eri menaiki batu Puncak Garuda, ada pendaki lain yang telah berhasil naik kemudian menuruni batuan tersebut. Eri kemudian menyusul naik, namun jatuh saat turun dari batu.

"Ia sudah sempat diingatkan oleh pendaki lainnya, kalau ingin naik jangan ragu - ragu, kalau ragu tidak usah saja. Ia memang berhasil naik, namun kemudian ketika hendak turun dirinya merasa ragu, hingga akhirnya saya diminta untuk menghadang tepat didepannya, untuk menjaganya," tuturnya.

"Motivasi terbesar Eri memang untuk berfoto di tempat tersebut, dari rumah sudah ia niatkan untuk dapat mengambil foto di situ ( batu Puncak Garuda ). Kalau saya malah takut untuk menaiki puncak tersebut," ujarnya.

Tidak disangka, Eri terperosok jatuh ke sisi kanan puncak menuju kawah. Menurut Dicky, terpelesetnya Eri berlangsung sangat cepat. Ia hanya dapat menyaksikan temannya itu jatuh ke sebelah kanan lalu terguling menuju kawah. Dirinya menambahkan, temannya itu baru kali pertama menaiki Gunung Merapi.

Operasi pencarian survivor Eri Yunanto memakai alat khusus berupa alat bantu pernapasan ( breathing aparatus ) dan pesawat mini tanpa awak ( drone ).

Pengendali Misi Pencarian ( SMC ) Suwiknya mengatakan, dua alat tersebut berfungsi untuk mempermudah pencarian. Hal itu berkait medan dan kondisi jatuhnya survivor di kawah Merapi.

"Drone kami gunakan untuk memetakan tempat dugaan jatuhnya pendaki. Dari situ akan dievaluasi jalur yang bisa ditempuh oleh penyelamat. Kami menerjunkan dua drone, dalam misi ini," ujarnya.

Sementara itu, breathing aparatus berfungsi untuk mengurangi risiko terhirupnya gas beracun yang ada di kawah Merapi.

"Kami juga harus melihat arah angin, sebab bila angin cenderung diam, hal itu justru berbahaya untuk penyelamat, karena konsentrasi gas beracun tinggi. Kalau ada angin berembus, maka udara akan bersirkulasi," tutur Suwiknya yang juga Kepala Resort Selo SPTN wilayah II Boyolali.  NG
Read More
19 comments